Rabu, 07 Mei 2014





RESUME BUKU
TEORI SASTRA KONTEMPORER
& 13 TOKOHNYA
KARYA MOHAMMAD A. SYUROPATI


FORMALISME RUSIA

Antara tahun 1910-1915, di italia dan rusia muncul gerakan avant garde,  (gerakan futurism). Yang merupakan cikal bakal formalisme Rusia. Istilah formalism berasal dari bahasa latin yaitu forma yang artinya bentuk atau wujud. Merupakan pendekatan dalam ilmu dan kritik sastra yang mengesampingkan data-data biografis, psikologis, idiologi, sosiologis. yang pada gilirannya menjadi titik awal munculnya ilmu sastra modern. Gerakan futurisme juga menjadi pelopor teori-teori strukturalisme. Karena formalisme rusia  tidak dapat dipisahkan dari gerakan futurisme dan strukturalisme. Pada tahun 1915, pragmatisme mendapat reaksi keras dari formalisme yang berpusat di moscow dan petograd. Dan tokoh tokohnya antara lain Boris Eichenboum, Victor Sckkhlovsky, dan Roman Jaksbon
Formalism juga muncul sebagai reaksi terhadap positivism. Adapun tokoh-tokoh formalism diantaranya; Roman Jakobson, sjklovsky, eichenbeum, tynjanov, mukarovsky Mikhail bakhtin, boris dan lain-lain. Namun pada tahun 1930-an formalisme dilarang pemerintah rusia yang beraliran politik komunis. Kaum formalis memperlakukan kesusastraan sebagai suatu pemakaian bahasa yang khas, yang mencapai perwujudannya lewat deviasi dan distorasi dari bahasa praktis yang digunakan untuk proses berkomunikasi.

1.  Roman Jakobson
Dia lahir di Moskow pada tahun 1896 merupakan tokoh formalisme Rusia, dan meninggal pada tahun 1982. Dan pada tahun 1914 dia memasuki fakultas Historiko-Filologis di Universitas Moskow dan masuk bagian bahasa jurusan Slavia dan Rusia. Pada tahun 1915 dia mendirikan lingkungan linguistik di moskow dan terpengaruh oleh pemikiran husserl. Mula-mula yang menjadi objek kajian jakobson adalah puisi dengan adanya fungsi puitik. Namun selanjutnya dikembangkannya sehingga ia menjadi teoritikus pertama yang menjelaskan adanya proses komunikasi dalam teks sastra. Karya sastra merupakan modul komunikasi yang meliputi relasi antara pengarang, teks dan pembaca, teks dan pengarang.
Dalam artikelnya yang terkenal linguistics and poetics jakobson menerangkan bahwa ada enam fungsi bahasa yang berbeda, yang merupakan factor pembentuk dalam setiap komunikasi verbal, yaitu pengirim (addresser) pesan (massage) yang dikirimi (addresse) konteks (context) code (code) dan kontak (contact).
Pada sisi lain jakobson menekankan pentingnya ilmu sastra (nauka o literature) sebagai cabang ilmu tersendiri. Dia juga memproklamirkan kesusastraan (literaturnos) sebagai objek ilmu sastra. Selanjutnya ia memandang bahwa karya sastra dinilai sebagai system yang dinamik, unsure di dalamnya disusun atas latar belakang dan latar depannya, jika salah satu unsure dihapuskan, maka unsure lainnya memerankan peran yang dominan. Dalam artian sebagai komponen sebuah karya seni yang memusat. Dalam bahasa puitik mempunyai dua perangkat masalah yaitu sinkronik dan diakronik.

2. Mikhail Bakhtin
Beliau lahir pada bulan November 1895 dan meninggal bulan Maret 1975. Tahun 1918 bakhtin belajar sastra klasik dan filologi di universitas Petrograd.  Karya-karya Bakhtin terbagi kedalam tiga periode, yaitu: 1) esai-esai awal tentang etika dan estetika; 2) buku dan artikel tentang sejarah novel; dan 3) esai-esai yang diterbitkan setelah ia meninggal, yang isinya menulang tema-tema ulasan diperiode kedua. Dia mencetuskan sebuah teori yang disebut chronotope yang didefinisikan sebagai keterkaitan intrinsik hubungan-hubungan ruang dan waktu yang ada didalam sastra. Dia merupakan salah satu dari teoritisi sastra terbaik diabad kedua puluh. “Karnavalisasi” adalah istilah yang dipergunakan Bakhtin untuk menerangkan bentuk efek karnaval pada jenis-jenis sastra. Dia berpandangan bahwa bentuk karnaval yang relatif bergairah itu bisa bertahan hidup dalam karya-karya tulis, bisa juga terjadi adanya pencarian kualitas kolektif pada penyelidikan tersebut, yang didalamnya ada beberapa sudut pandang yang saling bertabrakan tanpa suatu hirarki ragam yang dikukuhkan oleh pengarangnya.
 Adapun aspek terpenting dari karnaval adalah canda-tawa, namun tidak dapat disamakan didalam bentuk khususnya dengan yang ada didalam kesadaran modern, karena canda-tawa tersebut tidak hanya bersifat parodi, ironis, atau setiris, tapi ia juga bersifat ambivalen dan tidak memiliki objek” kata Bakhtin. Dalam telaahnya tentang novel, Bakhtin berpendapat bahwa diskursus bergaya novelis tidak boleh difahamai sebagai bahasa komunikasi dengan telaah linguistik, tetapi merupakan suatu lingkungan dinamis tempat berlangsungnya pertukaran (dialog).
Dalam periode formalism akhir, apa yang disebut dengan aliran bakhtin telah berhasil menggabungkan formalism dengan marxisme, yang mana aliran itu tetap formalis dalam menggabungkannya dengan struktur linguistic karya sastra.


MARXISME

            Teori ini berawal pada tahun 1840-an, seiring pernyataan-pernyataan Marx yang penting tentang kebudayaan dan masyarakat. Menurut Marx, sastra dan semua gejala kebudayaan lainya mencerminkan pola hubungan ekonomi, karena sastra terkait dengan kelas-kelas yang ada didalam masyarakatnya.
Teori sastra Marxis memiliki dasar filsafat normatif dengan ide-ide eksplisit tentang masalah-masalah epistemologi. Tokoh-tokoh teori sastra marxis mulai dari aliran rea;isme sosialis soviet, aliran frankurt, neo-marxisme, marxisme strukturalis sampai p[erkembangan mutakhir.

1.  George Lukacs
           George lucaks lahir di hungaria (1885-1971) dan menjalani pendidikan di jerman. Dasar dari pemikiran beliau mengikuti Aristoteles, Kant, dan Hegel. Seni realisme menurutnya adalah karya seni yang harus melawan alienasi dan keterpecahan yang ada pada masyarakat kapitalis, sehingga ia membentuk suatu gambaran masnusia secara menyeluruh dan sempurna. Sebagai seorang realis sosialis ia bersandar pada sisi pandangan hegel dan marxisme dengan memperlakukan karya sastra sebagai cerminan kehidupan nyata. Karya realis menurutnya adalah karya yang menyajikan serangkaian hubungan antara manusia, alam, dan sejarah yang kompleks dan komperehensif. Pandanganya adalah pandangan Marxis yang menekankan pada hakikat material dan sejarah struktur masyarakat. Menurutnya seorang seniman yang besar adalah mereka yang dapat menangkap dan menciptakan kembali totalitas harmonis kehidupan manusia.
Ia berpendapat bahwa sastra populer secar deametris bertentangan dengan sastra avant garde. Sebelum lucaks menjadi seorang marxis, seperti halnya hegel ia memandang novel sebagai karya “epic Borjuis” sebuah epic yang berbeda dengan epic klasik.

2.  Bertold Brecht
Dia yang hidup di antara tahun 1898-1956, seorang pengarang sandiwara yang bersifat kritis mengenai bidang sosial dan politik. Secara implisit dan eksplisit, karya-karya tulisnya mencerminkan pendapatnya bahwa setiap karya teater dimaksudkan untuk entertaiment, menghibur, dan sekaligus sebagai pangingsut sedekat-dekatnya pada segala media pendidikan dan komunikasi massa. Menurutnya peranan sosial serta pendidikan merupakan suatu unsur mutlak dalam karya seni. Drama-drama awalnya radikal, anarkistik, dan anti borjuis, tetapi tidak anti kapitalis. Menurut Brecht, pemain harus mampu menimbulkan efek alienasi, karena pemain bukan berfungsi untukmenunjukan melainkan mengungkapkan secara spontan individualitasnya.
Situasi, emosi dan dilema pelaku teater harus dapat dimengerti dari luar dan dihadirkan sebagai yang aneh dan problematik, tanpa mengindari penggunaan perasaan. Brecht mengatakan bahwa fungsi teater adalah sebagai media hiburan imajinatif bagi orang-orang yang terjerat dalam asumsi bahwa dunia adalah satuan yang tetap, terberi, dan tidak dapat diubah. Satu hal yang menarik dari pemikiran Brecht adalah aforismenya, “sesuatu itu penting tatkala sesuatu itu menjadi sesuatu yang penting”.

3.  Walter Benjamin
Banjamin adalah sahabat karib dan pendukung brecht. Beliau lahir di Berlin tahun 1892. Ia adalah seorang sahabat karib sekaligus pendukung Brecht yang mana ia juga berpendapat bahwa seni adalah sebuah praktik sosial, bukan semata-mata objek yang dapat dibedah secara akademik, sedangkan kesusastraan adalah sebuah aktivitas sosial, suatu bentuk produksi sosial dan ekonomi yang hadir bersama dan berhubungan dengan bentuk-bentuk lain yang sejenis.
            Menurutnya seniman revolusioner tidak menerima begitu saja kekuatan-kekuatan produksi artistik yang ada, tetapi dia juga harus mengembangkan dan lebih merevolusionerkan kekuatan-kekuatan tersebut supaya dapat menciptakan hubungan sosial yang baru antara seniman dan penikmat umum. Dalam esainya yang berjudul “The Work of Art The Age of Mechanical Reproduction”, terdapat dua unsur menonjol dalam karya seni. Pertama, bila suatu karya seni itu dapat direproduksi, maka ia akan bisa memperoleh makna baru dari bermacam-macam konteks. Kedua, karakterisasi yang dilakukannya pada film.

4. Theodor Adorno
           Beliau adalah tokoh neo-marxis, lahir pada tahun 1903, Adorno berpendapat bahwa seni memang terpisah dari realitas, atau seni tidak dapat secara sederhana mencerminkan sistem kemasyarakatan, tetapi ia berada diantara realitas tersebut sebagai pengganggu jenis pengetahuan yang tidak lansung, karena keterpisahannya bisa memberikan makna dan kekuatan yang khusus kepadanya. Menurutnya seni adalah pengetahuan negatif tentang dunia nyata. Seni tidak menyampaikan pengetahuan tentang realitas, karena secara prespektif seni melukiskan realitas, dan karena sifatnya yang otonom itulah seni dapat mengungkapkan hal-hal yang disembunyikan oleh bentuk-bentuk pengetahuan empiris.
Adorno menilai filsafat bukanlah puisi atau seni, karena bila filsafat dilihat sebagai seni maka hakikat filsafat dihapuskan. Filsafat tidak boleh memberikan dorongan estetik, proses yang dapat membawa puitisasi. Pemikiran Adorno tentang metode dialektikanya, yaitu:
1.    Adorno menganggap masyarakat sebagai suatu totalitas dalam pengertian yang sangat dialektis.
2.    Metode dialektis memusatkan hubungan antara yang umum dan yang invidual dalam penempatan historisnya.
3.    Dialektika Adorno memberikan identitas ganda pada subjek, yang dapat dibagi menjadi keinginan yang lebih tinggi (kesadaran yang benar) dan keinginan yang lebih rendah (kesadaran palsu).
4.    Adorno menolak adanya pembedaan antara teori dan praktek, bahasa objek dan metabahasa, fakta yang diamati dan nilai-nilai yang diberikan.


STRUKTURALISME

            Strukturalisme pada mulanya lahir di Prancis tahun 1960-an, diawali dengan hadirnya buku Course in General Linguistic (1916) oleh Ferdinand de Saussure (bahasa). Strukturalisme juga muncul di Amerika seteah munculnya aliran New Criticism (isi), dan di Jenewa dengan nama Struturalisme Praha (sign/tanda). Teori Strukturaisme sastra merupakan teori untuk mendekati teks-teks sastra yang menekankan keseluruhan relasi antara berbagai unsur teks. Asumsi dasar strukturalisme adalah teks sastra merupakan keseluruhan, kesatuan yang bulat dan mempunyai koherensi bathiniyah. Strukturalisme menentang teori mimetik, ekspresif, dan menentang teori-teori yang menganggap sastra sebagai penghubung antar pengarang dan pembacanya.
           Kaum strukturalis berpendapat tulisan tidak mempunyai asal, tiap ucapan individual didahului oleh bahasa, dan tiap teks terbangun dari yang telah ditulis. Perkembangan pertama dalam studi strukturalis yaitu fonem, elemen terendah dalam sistem bahasa, karena fonem adalah bunyi yang bermakna yang dikenal atau difahami oleh pemakai bahasa.

1.  Ferdinand de Saussure
            Seorang Bapak Strukturalis dan Linguistik yang lahir di Jenewa tahun (1857-1913). Dalam bukunya Course in General Linguistic Saussure menggambarkan bahwa pemikiran-pemikiranya tidak lepas dari bahasa dan tanda. Tanda-tanda disusun dari dua elemen, yaitu: 1) aspek citra tentang bunyi (semacam kata atau representasi visual); dan 2) sebuah konsep dimana citra bunyi disandarkan. Dasar pemikiran linguistik saussure yang bertolak dari sederetan dekotomi (pasangan definisi yang beroposisi), yaitu tentang dekotomi antara parole dan langue, dekotomi antara signifiant ( penanda) dan signifie (petanda), dan dekotomi antara sintagma dan paradigma.

2.  Claude Levi-Strauss
            Seorang ahli antropologi yang lahir di Kota Brussel tanggal 28 November 1908. Adapun asumsi-asumsi dasar dalam pemikiran Levi-Strauss, diantaranya adalah: Pertama, Strukturalisme Levi-Strauss beranggapan bahwa berbagai aktivitas sosial, termasuk juga hasilnya, semuanya secara formal dapat dikatakan sebagai bahasa-bahasa atau perangkat tanda dan simbol yang menyampaikan pesan-pesan tertentu. Kedua, Dalam diri manusia terdapat kemampuan dasar yang diwariskan secara genetis, yaitu kemampuan untuk structuring, menyusun suatu struktur atau menempelkan suatu struktur tertentu pada gejala-gejala yang dihadapinya. Ketiga, Makna suatu istilah itu ditentukan oleh relasi-relasinya pada suatu titik waktu tertentu secara sinkronis. Keempat, Relasi-relasi yang berada pada struktur dalam dapat disederhanakan lagi menjadi oposisi berpasangan (binary opposition).
            Selanjutnya, ada dua aspek penting yang mendasari pendekatannya. Pertama, Prinsip Levi-Strauss yang mengatakan bahwa kehidupan sosial dan kultural tidak dapat dijelaskan secara unik oleh salah satu versi fungsionalisme. Kedua, yang membentuk manusia itu adalah dimensi kultural (yang didominasi bahasa), bukan alam atau yang dialami. Levi-Strauss berpendapat bahwa mitos adalah representasi dari pemikiran yang membentuknya, bukan beberapa relitas eksternal.



SEMIOTIKA

Tanda-tanda adalah seperangkat yang kita pakai dalam rangka berusaha mencari jalan di dunia ini, di tengah-tengah manusia dan bersama manusia. Yang terpenting adalah bagaimana kita dapat menerjemahkan tanda-tanda yang ada di sekeliling kita, relasi-relasinya, dan mencari makna-makna yang ada di balik itu semua.
Istilah “semiologi” merupakan pengembangan dari peletakan dasar linguistik modernnya Ferdinand de Saussure (1857-1913)yang berdasarkan pada penggunaan tanda sedangkan Charles Sander Peirce (1839-1914) menyebutnya dengan istilah “semiotika”. Kedua pemikiran bapak semiotika tersebut diperluas oleh pemikir-pemikir lainnya.
Semiotika (ilmu tanda, berasal dari kata Yunani Semeion, yang berarti tanda) adalah nama cabang ilmu yang berurusan dengan pengkajian tanda-tanda dan segala sesuatu yang berhubungan dengan tanda, seperti sistem tanda dan proses yang berlaku bagi penggunaan tanda. Semiotika ini merupakan bidang yang luas, dari zoo-semiotika, semiotika para linguistik, semiotika komunikasi visual, semiotika komunikasi massa, semiotika kode budaya dan masih banyak lagi.
Eco menyatakan bahwa semiotik merupakan penerapan prinsip-prinsip segala disiplin ilmu yang dapat dimanfaatkan untuk mengelabui. Jadi, tanda-tanda dapat menceritakan kebenaran maupun kebohongan. Namun toh demikian, tidak semua tanda dapat dilihat. Suara dapat dianggap sebagai tanda, begitu juga dengan bau, rasa dan bentuk.
Adapun yang tergolong tokoh-tokoh Semiotika atau Semiologi adalah: Charles Sanders Peirce, Ferdinand de Saussure, Roman Jakobson, Umberto Eco, Louis Hjemslev, Roland Barthes, Tzvetan Todorov, Algirdas Julien Greimas, Michael Refaterre, Jurit Lotman, dan lain-lain.

1.       Charles S. Peirce
Bapak Semiotika dan sekaligus seorang filsuf Amerika yang paling orisinil dan multidimensional ini, lahir dalam sebuah keluarga intelektual pada tahun 1839. Dia adalah anak dari seorang ayah yang menjadai profesor matematika di Harvard. Pada tahun 1859,1862, dan 1863, secara berturut-turut dia meraih gelar B.A., M.A., dan B.Sc. dari Universitas Harvard.
Peirce telah menciptakan teori umum untuk tanda-tanda dan telah memberikan dasar-dasar yang kuat pada teori tersebut dengan istilah Semiotika. Kata Semiotika telah digunakan ahli filsafat Jerman sebagai sinonim kata logika. Menurutnya, logika harus mempelajari bagaimana orang bernalar, dan penalaran itu dilakukan melalui tanda-tanda.
Singkatnya Peirce mengatakan bahwa tanda terkait erat dengan logika, karena tanda adalah sarana pikiran sebagai artikulasi bentuk-bentuk logika. Selain itu dia juga menyebutkan bahwa tanda adalah segala sesuatu yang ada pada seseorang untuk menytakan sesuatu yang lain dalam beberapa hal atau kapasitas, atau dengan kata lain tanda sebagai suatu pegangan seseorang akibat keterkaitan dengan tanggapan atau kapasitasnya.
Fungsi esensial sebuah tanda adalah menjadikan relasi yang tidak efesien menjadi efisien, baik dalam komunikasi kita dengan orang lain maupun dalam pemikiran dan pemahaman kita tentang dunia.
Peirce mengatakan bahwa tanda-tanda berkaitan dengan objek-objek yang menyerupainya, keberadaannya memiliki hubungan sebab-akibat dengan tanda-tanda atau karena ikatan konvensional. Dari sinilah Peirce membedakan adanya tiga kategori eksistensial, yaitu: ke-pertama-an (firstness), ke-dua-an (secondness), dan ke-tiga-an (thirdness).
Telaahannya tentang tanda, Peirce membedakannya sebagai berikut:
a.       Tanda dan ground (dasar, latar)-nya.
b.      Tanda dan denotatum-nya (dunia yang dibentuk dengan kata-kata).
c.       Tanda dan interpretant-nya (tanda yang berkembang dari tanda yang telah terlebih dahulu ada dalam benak orang yang menginterpretasikannya.
d.      Tanda berfungsi dalam hubungannya dengan tanda yang lain.

2.      Louis Hjelmslev
Dia adalah tokoh semiotik sekaligus linguistik. Dia lahir di Denmark pada tahun 1899 dan meninggal pada tahun 1966. Hjelmslev berpendapat bahwa bahasa adalah suatu lembaga supra-individu yang harus dipelajari dan dianalisis secara tersendiri, bukannya diamati sebagai sarana atau alat pengetahuan, pikiran dan emosi, atau sebagai cara untuk melakukan kontak dengan yang berada di luarnya. Bahasa adalah suatu sistem penandaan dan proses realisasi (bagi Saussure, istilah yang setara masing-masing adalah ‘langua’ dan ‘parole’).
Konteks yang berhubungan dengan tanda lain ialah dengan adanya fungsi. Fungsi didefinisikannya sebagai “ketergantungan yang memenuhi persyaratan untuk suatu analisis”. Suatu fungsi tanda ada di antara terminal yang membentuk tanda (functive).
Bahasa dibagi menjadi dua dataran yang berbeda, yaitu pada sistem (yang sesuai dengan struktur bahasa yang mendasar dan terus ada) dan pada proses (yang disebut juga sebagai teks). Sebuah tanda bukan merupakan entitas fisik atau nonfisik yang bisa diambil begitu saja oleh para ahli bahasa dan semiotik.
Menurut Hjelmslev bahasa harus dilihat sebagai yang memiliki hubungan mendasar dengan makna dan atau pemikiran. Artinya, bahasa itu terkait dengan upaya pemaknaan suatu faktor yang ada dalam semua bahasa, yaitu massa pikiran yang tak terbentuk yang berada di luar bahasa. Upaya pemaknaan adalah faktor paling problematis dalam teori Hjelmslev ini.
Kandungan dan ungkapan merupakan dua functive tak terpisah pada fungsi tanda. Ungkapan bisa muncul dalam berbagai cara: melalui wicara, tulisan, isyarat (bahasa isyarat).
Hjelmselv mengadakn pengembangan terhadap fungsi tanda agar terhindar dari pembagian artifisial dalam linguistik antara fonetik, morfologi, sintaksis, leksikografi, dan semantik. Untuk menunjukkan inovasi, ia menggunakan istilah “glosematika” (dari bahsa Yunani glossa, yang berarti bahasa).
Glosematika bisa disebut sebagai sebuah aljabar bahasa yang bekerja dengan berbagai entitas tanpa nama atau ilmu yang objeknya adalah aljabar bahasa yang imanen. Dalam telaah Semiotika, Hejlmslev mempunyai teori yag bernama denotasi dan konotasi. Denotasi adalah suatu wilayah ungkapan yang merujuk pada isi. Sedangkan konotasi, secara formal terkait dengan fakata bahwa ungkapan dan kandungan secara bersama-sama menjadi ungkapan lain yang mengacu kepada isi yang lain.

3.      Roland Barthes
Dia adalah seorang ahki semiotika yang lahir di Cherbourg pada tahun 1915 dan meninggal pada tahun 1980. Pada awal pemikirannya, ia melihat kehidupan sosial dan kultural dalam kerangka penandaan, bukan dalam kerangka sifat-sifat objek yang tidak bersifat esensial. Menurutnya, semiotika juga mempelajari bagaimana tanda melakukan penandaan-dalam naskah sastra konvensibrial dan dokumen-dokumen hukum, atau dalam iklan dan prilaku ragawi.
Sebagai seorang ahli semiotika, ia baru merumuskan teori tentang mitos yang mendasari tulisannya dalam Mythologies. Mitos adalah sebuah pesan-bukan konsep, gagasan, atau objek. Mitos didefinisikan dengan “bagaimana caranya mengutarakan pesan, ia adalah hasil dari wicara (parole), nukan bahasa (langua). Sebenarnya mitos bukanlah kebohongan atau pengakuan; ia adalah pembelokn.
Secara teknis, Barthes menyebutkan bahwa mitos merupakan urutan kedua dari sistem semiologis dimana tanda-tanda dalam urutan pertama pada sistem itu (yaitu kombinasi anatara petanda dan penanda) menjadi penanda dalam sistem kedua..
Menurut Barthes, seluruh tanda dalam sistem denotatif berfungsi sebagai penanda pada sistem konotatif atau sistem mitos. Maka, seorang analisis di bidang tanda berkewajiban untuk menunjukkan fungsi denotasi dan konotasi yang membentuk tanda-tanda yang dipahami banyak orang.
Dalam hal busana, Barthes menjelaskan bahwa sebenarnya bahasa mode hanya bisa menjadi jelas jika hubungan antar penanda ikut dipikirkan, bukan hanya hubungan sembarang antara penanda dan yang ditandakan. Tanda busana bukan merupakan gabungan sederhana dari penanda dan yang ditandakan, karena busana itu selalu dikonotasikan dan tidak pernah didenotsikan. Tanda busana adalh tulisan tentang busana itu sendiri yang menurut Barthes bersifat tautologis karena busana hanya merupakan bahan pakaian yang fashionable.
Lima kode yang ditttinjau Barthes adalah: Kode hermeneutik (pemaparan suatu teka-teki), kode semik (makna konotatif), kode simbolik, kode proarietik (logika tindakan), dan kode gnomic atau kode kultural yang membangkitkan suatu badan pengetahuan tertentu.
Perjalanan teoritis Bathes berakhir pada teori teks atau analisis tekstual. Dslsm analisis tekstual atas narasi, menurut Barthes, membaca itu bukan untuk mencari melainkan untuk menunda makna, bukan untuk mencari struktur melainkan melakukan strukturasi, bukan untuk mengonsumsi melainkan untuk memproduksi teks.
Dalam telaahnya terhadap produk teks sastra, Barthes melihat tanggung jawab seorang kritikus sastra. Dia semakin tergila-gila pada tanda, yang kemudian olehnya diberi istilah Semiotropi (semiotika negativa). Dengan ini ia menunjukkan bahwa semiotika bukan semat-mata ilmu tentang tanda, melainkan lebih dari itu, yaitu cinta akan tanda. Semiotropi merupakan jalan tengah dari dua ekstrem, yaitu: semio-fisis (menjalankan semiotika sebagai alat untuk menghancurkan tanda itu sendiri). Jadi, semiotrapi adalah sebuah nama yang diberikan untuk semiotika sebagaimana yang dipraktikkan oleh orang-orang yang tidak kuatir dikungkung oleh tanda atau tidak kuatir akan kehilangan tanda.

4.      Umberto Eco
Dia lahir di Piedmont, Italia pada tahun 1932 dan dia menjadi terkenal di seluruh dunia berkat dua novelnya, The Name of the Rose dan Foucault’s Pendulum. Di dalam bukunya A Theory of Semiotics, Umberto Eco mengatakan, “Semiotika berkaiatan dengan segala hal yang dapat dimaknai sebagai suatu tanda-tanda. Sebuah tanda adalah segala sesuatu yang dapat dilekati (dimaknai) sebagai pengganti yang signifikan untuk sesuatu yang lainnya.
Meskipun secara eksplisit A Theory of Semiotics berkaitan erat dengan teori kebangkitan kode dan tanda, tetapi titik tolak yang mendasarinya adalah pengertian Peirce tentang “semiosis yang tak terbatas”. Bagi Eco hal ini terkait erat dengan standar kedudukan pembaca.
Berkaitan dengan “semiosis tak terbatas”, dalam hal kode, secara umum Eco membagi kode dalam dua jenis, yaitu:
a.       Jenis kode Morse (bisa berbentuk tunggal), dimana suatu kode tertentu (garis dan titik) sesuai dengan sekumpulan tanda, yaitu huruf-huruf abjad. Kode jenis ini dimana satu usur daoat diterjemahkan ke sistem lainnya, sudaha barang tentu memiliki penerapan yang sangat luas.
b.      Jenis kode Konteks, artinya kode itu memiliki konteks, yaitu kode yang berada dalam kehidupan sosial dan kultural. Maksudnya satuan-satuan kultural adalah tanda bahwa kehidupan sosial telah memberi kita buku-buku imaji, tanggapan yang sesuai untuk menafsirkan pertanyaan yang mendua, kata-kata untuk menafsirkan definisi dan demikian pula sebaliknya.
Selain teori tentang kode, Eco juga mempunyai teori tentang pembentukan tanda (teori produksi tanda). Dalam pembahasannya tentang teori ini, Eco menitikberatkan perhatiannya pada ketegangan antara unsur-unsur yang dapat dicocokkan atau diramalkan oleh kode dan yang tidak bisa dicocokkan dengan mudah. Singkatnya, unsur-unsur pokok pembentuk tanda (tipologi model produksi tanda) menurut Eco adalah:
a.       Kerja fisik: upaya yang dilakukan untuk membentuk tanda.
b.      Pengenalan: objek atau peristiwa dilihat sebagai suatu ungkapan kandungan tanda, seperti tanda gejala, atau bukti.
c.       Peanampilan: suatu objek atau tindakan menjadi contoh jenis objek atau tindakan.
d.      Replika: kecenderungan ke arah ratio difficilis secara prinsip, tetapi mengambil bentuk-bentuk kodifikasi melalui penggayaan. Contoh: emblim, notasi musik, dan tanda matematika.
e.       Penemuan: kasus yang paling jelas dari ratio difficilis. Sebagai sesuatu yang tidak terlihat oleh kode; menjadi landasan suatu kontinuum materi baru.

Membedakan antara signifikasi dan komunikasi, yang pada dasarnya semiotika signifikasi memerlukan bantuan teori kode, sedangkan semiotika komunikasi memerlukan bantuan teori produksi tanda. Perbedaan teori kode dan teori produksi tanda tidaklah sejalan dengan teori langue dan parole; competence dan performance atau sintaksis (semantik) dan pragmatik, sebagaimana yang dikemukakan Saussure.
Eco berusaha mengatasi perbedaan tersebut dengan menyusun teori kode secara garis besar dengan tetap memperhitungkan kaidah-kaidah kompetensi wacana, formasi teks, kepastian konteks, dan situasi. Sistem signifikasi itu dimanfaatkan secara fisik untuk mengungkapkan maksud-maksud tertentu. Jadi, untuk membedakan antara keduanya harus melihat adanya perbedaan antara kaidah dan proses, atau perbedaan antara potensi dan tindakan (menurut Aristoteles).
Ketika Peirce berpendapat bahwa tanda adalah segala sesuatu yang ada pada seseorang untuk menyatakan sesuatu yang lain dalam beberapa hal atau kapasitasnya, sebagaimana tanda dapat berarti sesuatu bagi seseorang jika hubungan yang berarti ini diperantarai oleh interpretant, maka Eco sepakat dengan Peirce dalam mengartikan interpretant sebagai suatu peristiwa psikologis dalam pemikiran interpreter.
Tentang “bacaan” dan “interpretasi”, Eco menjelaskan bahwa setiap karya sastra bisa dikatakan membentuk model pembaca yang sesuai dengan berbagai kemungkinan nyata yang bisa dibenarkan oleh naskah. Eco sering mengutip satiu baris dari Finnegans Wake yang mengatakan bahwa “pembaca ideal menderita isomnia ideal”. Artinya, pembaca ideal itu tidak lain adalah seorang pembaca sempurna yang memiliki berbagai bacaan yang bisa diterima dalam kaitannya dengan struktur naskah itu sendiri. Sumbanagn Eco yang terbesar dalam teori Semiotika adalah usahanya untuk menunjukkan bahwa bahasa itu mirip dengan ensiklopedia, seperti yang ditemukan oleh para filsuf abad kedelapan belas.


PSIKOANALISIS


Titik awal kemunculan teori Psikoanalisis adalah usaha-usaha Freud dalam menganalisis dunia ketidaksadaran. Psikoanalisis adalah sistem menyeluruh dalam psikologi yang dikembangkan oleh Freud untuk menangani orang-orang yang mengalami neurosis dan masalah mental lainnya. Tugas psikoanalisis adalah untuk mengobati penyimpangan mental dan syaraf, menjelaskan bagaimana kepribadian manusiaberkembang dan bekerja, dan menyajikan teori mengenai cara individu dapat berfungsi di dalam hubungan personal dan masyarakat. Hubungan antara Psikoanalisis dan sastra dapat dilihat ketika Psikoanalisis menjelaskan tentang konsep sensor dan pekerjaan tak sadar dalam mimpi, yang ternyata memberikan sumbangan besar dalam perkembangan teori-teori sastra modern.

Sigmund Freud
Dia berasal dari keluarga pedagang Yahudi yang lahir pada tahun 1856 di Freiburg, Moravia, yang kemudian menjadi bagian dari kerajaan Austro-Hungaria. Freud meninggal pada tanggal 23 September 1939, di London. Sepanjang hidupnya, Freud menghabiskan waktunya untuk berpikir dan berkarya, sehingga menjadikannya seorang yang terkenal. Di antara karya-karyanya Freud yang terkenal ialah The Interpretation of Dreams (1900),  The Psychopathology of Everyday Life (1901), General Introductory Lectures on Psychoanalysis (1917), New Introductory Lectures on Psychoanalysis (1933), dan An Outline of Psychoanalysis (1940).
Freud adalah seorang dari mereka yang tergolong struktural, yang telah mengubah teori positivistiknya tentang kehidupan psikis setelah menemukan fakta-fakta tentang psike itu sendiri, baik psike dengan melakukan analisis terhadap dirinya, maupun psike pasien-pasiennya menjadi teori psikoanalisis. Di samping itu, Freud melihat bahwa psikoanalisisnya yang berpusat pada tafsir mimpi dapat disepadankan dengan karya sastra. Mimpi adalah merupakan peleburan beberapa tokoh atau hal yang mempunyai sifat yang umum ke dalam suatu gambar, atau bahkan bisa dikatakan mimpi adalah peleburan beberapa kata yang mengacu pada realitas yang berbeda dalam suatu kata.
Seperti halnya sastra, mimpi juga memiliki prosedur yang sama, yaitu dengan adanya pengalihan yang dianalogikan dengan metonimi dan simbolisasi yang dianalogikan dengan metafora. Akan tetapi, antara bahasa mimpi dan bahasa sastra tetap memiliki perbedaan sensor, yaitu bahwa proses dalam mimpi merupakan mekanisme tak sadar, sedangkan dalam sastra merupakan tindakan sadar.
Menurut Freud, mimpi itu seperti tulisan, yaitu sistem tanda yang menunjukkan pada sesuatu yang berbeda dengan tanda-tanda itu sendiri. Selain berkaitan dengan sastra, mimpi juga dapat disepadankan dengan seni. Freud yakin bahwa semua seni dan sastra itu merupakan hasil dari sublimasi terhadap dorongan libido.
Di dalam interpretasinya terhadap karya sastra, Freud mencoba menguraikan masalah delir dan gejala-gejalanya, evolusi delir, dan tahap menuju penyembuhan dari gejala neurosis yang diderita sang tokoh. Delir adalah gangguan kejiwaan yang menyebabkan penderitanya memberikan kepercayaan yang sama besar pada ciptaan imajinasi, khayalan, maupun pada persepsi nyata, sehingga si penderita membiarkan kelakuannya dibelikkan atau diarahkan oleh apa yang timbul dalam khayalannya.
Sejumlah alasan yang memperkuat mimpi dijadikan pusat psikoanalisis Freud, yaitu:
a.       Mimpi terjadi di tengah tidur.
b.      Hanya dengan metode analisis mimpi dan asosiasi bebas, simbolisme yang terlibat di dalam gejala neurotik itu benar-benar bisa dimengerti.
c.       Berdasarkan gagasannya tentang seksualitas masa kanak-kanak, Freud menekankan bahwa mimpi seringkali menyangkut masalah-masalah seksual yang berasal dari masa kanak-kanak.
d.      Freud memandang semua mimpi itu sebagai ekspresi dari pemenuhan harapan.

Dengan demikian, analisis terhadap mimpi-mimpi bukanlah suatu metode yang terpisah dari metode asosiasi bebas, yaitu suatu metode yang menuntut pasien mengatakan segala sesuatu yang muncul dalam kesadarannya dengan tidak mempedulikan apakah pernytaan itu memalukan atau tak pantas didengarkan. Ucapan-ucapan pasien yang serba tidak teratur, bagi Freud adalah merupakan penyataan-pernyataan yang memiliki hubungan dinamik dan penuh arti dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya.
Menurut Freud, mimpi-mimpi yang dilaporkan pasien dan asosiasi-asosiasi bebas yang mengiringnya itu merupakan sumber informasi yang kaya tentang dinamika kepribadian manusia. Dalam hal ini Freud menyatakan bahwa mimpi itu mengungkapkan kegiatan dan isi paling primitif dari jiwa manusia, sementara prosesnya yang menghasilkan mimpi disebutnya sebagai proses primer, yaitu suatu usaha untuk menciptakan pemenuhan hasrat atau menghilangkan tegangan dengan cara menciptakan suatu gambaran tentang tujuan yang diinginkan.
Tentang tafsir mimpinya, Freud menganggap mimpi itu selalu didorong oleh kebutuhan untuk memenuhi suatu harapan. Di dalam bentuknya yang paling sederhana, sebuah mimpi secara langsung mengekspresikan suatu harapan. Menurut Freud, masing-masing mimpi memiliki isi manifes dan isi laten. Manifes adalah bagian dari suatu mimpi yang secara sadar teringat, sdangkan laten adalah bagian dari suatu mimpi yang tidak bisa diingat secara sadar sebelum dilakukan analisis.
Dalam bentuk yang telah terdistorsi, Freud menyebutkan beberapa macam mekanisme yang memungkinkan pemenuhan harapan dalam mimpi itu terekspresikan, yaitu:

a.       Adanya peralihan emosi yang terikat pada suatu ide ke ide yang lain (displacement).
b.      Bersatunya dua ide atau lebih di dalm mimpi atau ketika melucu (kondensasi).
c.       Simbolisasi, yaitu ide atau citra mimpi.
d.      Proses yang mencegah dilepaskannya ide-ide tak sadar (resistensi).
Metode penfsiran mimpi
a.       Metode simbolis: seperti mimpi Yusuf tentang tujuh sapi kurus yang memakan tujuh sapi gemuk, yang ditafsirkan secara simbolis sebagai tujuh tahun paceklik setelah tujuh tahun kemakmuran – tetapi metode ini cenderung tidak dapat digunakan untuk menafsirkan mimpi yang sangat kacau dan tak bisa dimengerti.
b.      Metode sandi (decoding): menggunakan metode yang pas untuk menfsirkan arti mimpi. Tetapi bagi Freud metode ini tidaklah ilmiah karena bisa saja kunci aslinya salah.
Menurut Freud, konsep lain dalam mimpi adalah adanya simbol-simbol. Untuk memahami simbol-simbol dibutuhkan kombinasi antara pengeksplorasian asosiasi si pemimpi sendiri dengan menggunakan pengetahuan si pemimpi sendiri dengan menggunakan pengetahuan si analis mengenai simbol-simbol mimpi untuk mengisi kesenjangannya, karena sibol seringkali memiliki lebih dari satu arti. Banyak sekali konsep yang ditawarkan Freud dalam psikoanalisinya, seperti konsepnya tentang mengeksplorasi pikiran tak sadar, teori seksual dan libido, mencari identitas dewasa (id, ego, super ego), psikologi kesalahan, makna gejala, teori analitis, dan lain-lain.

Tokoh-tokoh Psikoanalisis Lainnya
1.       Karen Horney
Adalah seorang psikolog terkenal dan salah satu pemikir tentang neurosis yang terbaik. Ia lahir 16 September 1885 di Hamburg, Jerman dan wafat 4 Desember 1952.
Pendekatan psikologi Horney adalah Freudian. Cara pandang terhadap masalah neurosis, ia menekankan adanya hubungan yang jelas antara neurosis dan kehidupan sehari-hari yang dijalani penderita neurosis. Horney berpendapat bahwa sebenarnya neurosis adalah cara yang digunakan manusia untuk menjalani hubungan dengan manusia lainnya. Akan tetapi, hanya ada sebagian orang yang mampu melakukannya dengan baik. Orang yang mengidap neurosis justru cenderung membiarkan dirinya hidup dalam dunianya sendiri. Horney setidaknya menemukan 10 bentuk kebutuhan neurosis yang didasarkan pada kebutuhan primer manusia, yang mengalami gangguan. Gangguan tersebut yaitu, pertama, dapat berupa kebutuhan yang tidak realistis, tidak masuk akal, dan tidak pandang bulu. Kedua, kebutuhan orang yang mengidap neurosis sangatlah kuat, sehingga apabila tidak terpenuhi akan membuatnya merasa gelisah dan cemas.

2.      Anna Freud
Dia lahir 3 Desember 1895 di Wina dan wafat 9 Oktober 1982. Dia adalah seorang psikolog dari aliran psikoanalisis, yang juga merupakan putri dari Sigmund Freud. Bukunya yang mebuat ia terkenal yaitu yang berjudul “Ego dan Mekanisme Pertahanan”.
Perbedaan antara Anna dan pemikir psikoanalisis lainnya, seperti Jung dan Alder adalah bahwa Anna lebih tertarik pada dinamika kejiwaan ketimbang struktur kejiwaan, khususnya dinamika yang bertumpu pada ego. Ego adalah dasar dari segala observasi seorang psikolog baginya.

3.      Carl Jung
Nama lengkapnya adalah Carl Gustav Jung, lahir 26 Juli 1875 di Kesswil dan wafat 6 Juni 1961 di Kusnacht. Ia adalah psikiater Swiss dan printis psikolog analitik.
Pendekatan Jung terhadap psikologi yang unik dan berpengaruh luas ditekankan pada pemahaman “psyche” melalui eksplorasi dua mimpi, seni, mitologi, agama, serta filsafat. Bagi Jung, kepribadian merupakan kombinasi yang mencakup perasaan dan tingkah laku, baik sadar maupun tidak sadar. Jung juga menekankan pentingnya keseimbangan dan harmoni. Kebanyakan karyanya mengeksplorasi bidang lain: filsafat Timur vs Barat, alkimia, astrologi, sosiologi, juga sastra dan seni.

4.      Alfred Adler
Dia seorang berkebangsaan Yahudi, lahir pada 7 Februari 1870 di Rudolfsheim, Austria. Dia meninggal pada 28 Mei 1937 di Aberdeen, Skotlandia. Ia adalah seorang psikolog dan fisikawan yang mengembangkan teori psikologi individual. Adler menyatakan ada satu daya motivasi yang mempengaruhi semua bentuk perilaku dan pengalaman manusia. Daya motivasi tersebut disebut “dorongan ke arah kesempurnaan”. Menurut Freud, segala sesuatu yang terjadi di masa lalu, seperti trauma masa kecil, pasti menjadi penentu siapa orang itu di masa kini. Sebaliknya Adler justru berpendapat bahwa “dorongan ke arah kesempurnaan” yang hendak seseorang capai di masa depan, itulah yang memotivasi mausia di masa kini.

5.      Erich Fromm
Dia seorang berkebangsaan Jerman, lahir 23 Maret 1900 di Frankfrut am Main dan wafat 18 Maret 1980, pada umur 79 tahun merupakan seorang psikologi, psikoanalisis, dan filsuf. Erich Fromm pertama kali belajar pada tahun 1918 di Universitas Frankfrut am Main untuk semester dua di yurisprudensi. Pada musim panas 1919, ia belajar di Universitas Heidelberg pada fakultas sosiologi.

Teori Kesadaran

Kesdaran adalah kesadaran akan perbuatan. Sadar artinya merasa, tahu atau ingat (kepada keadaan yang sebenarnya), keadaan ingat akan dirinya, ingat kembali (dari pingsannya), siuman, bangun (dari tidur). Kesadaran yang dimiliki oleh manusia merupakan bentuk unik dimana ia dapat menempatkan diri manusia sesuai dengan yang diyakininya. Refleksi merupakan bentuk dari pengungkapan kesadaran dimana ia dapat memberikan atau bertahan dalam situasi dan kondisi tertentu dalam lingkungan.
Kesadaran merupakan unsur dalam diri manusia untuk memahami realitas dan bagaimana cara bertindak atau menyikapi terhadap realitas. Kesadaran manusia bahwa ia akan mati mendahului orang-orang yang disayanginya atau sebaliknya adalah kesadaran akan kesendirian, keterpisahan, akan kelemahan dalam menghadapi kekuatan alam dan masyarakat.

Teori Cinta

Cinta adalah sebuah perasaan yang ingin membagi bersama atau sebuah perasaan afeksi terhadap seseorang. Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, memberikan kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh dan mau melakukan apapun yang diinginkan objek tersebut. Cinta adalah satu perkataan yang mengandung makna perasaan yang rumit. Sifat cinta dalam pengertian abad ke-21 mungkin berbeda dengan abad-abad yang lalu.
Ungkapan cinta mungkin digunakan untuk meluapkan perasaan seperti berikut:
a.       Perasaan terhadap keluarga.
b.      Perasaan terhadap teman-teman (philia).
c.       Perasaan yang romantis (asmara).
d.      Perasaan yang hanya merupakan kemauan, keinginan hawa nafsu (cinta eros).
e.       Perasaan sesama (kasih sayang/agape).
f.        Perasaan tentang atau terhadap dirinya sendiri (narsisisme).
g.       Perasaan terhadap sebuah konsep tertentu.
h.      Perasaan terhadap negaranya (patriotisme).
i.        Perasaan terhadap bangsa (nasionalisme)
Cinta Antar Pribadi

Cinta antar pribadi menunjuk kepada cinta antar sesama manusia, yang bisa mencakup hubungan kekasih, hubungan orangtua dengan anak, dan juga persahabatan yang sangat erat. Beberapa unsur yang sering ada dalam cinta antar pribadi antara lain:
a.       Afeksi: menghargai orang lain.
b.      Altruisme: perhatian non-egois kepada orang lain, yang tentunya sangat jarang kita temui sekarang ini.
c.       Reciprocation: cinta yang saling menguntungkan, bukan saling memanfaatkan.
d.      Komitmen: keinginan untuk mengabadikan cinta, tekad yang kuat dalam suatu hubungan.
e.       Keintiman emosional: berbagi emosi dan rasa.
f.        Kinship: ikatan keluarga.
g.       Passion: hasrat dan atau nafsu seksual yang cenderung menggebu-gebu.
h.      Physical intimacy: berbagi kehidupan erat satu sama lain secara fisik, termasuk di dalamnya hubungan seksual.
i.        Self-interest: cinta yang mengharapkan imbalan pribadi, cenderung egois dan ada keinginan untuk memanfaatkan pasangan.
j.        Service: keinginan untuk membantu dan atau melayani.
k.      Homoseks: cinta dan atau hasrat seksual pada orang yang berjenis kelamin sama, khususnya bagi pria. Bagi wanita biasa disebut Lesbian.


























































































































 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar