MUHAMMAD
IMAM AKBAR
1125020063
BSA
IV B
APRESIASI
PUISI
dan
PROSA
(PUTU ARYA TIRTAWIRYA)
BAGIAN SATU
PUISI
1
PUISI
LAWAN KATANYA BUKAN PROSA TAPI ILMU
PROSA
LAWAN KATANYA BUKAN PUISI TAPI SAJAK
Sajak adalah puisi tetapi puisi
belum tentu sajak. Dalam bahasa Inggris puisi itu poetry, mungkin saja terdapat
dalam prosa seperti cerpen, novel atau esai. Sehingga banyak orang yang
mengatakan pengarang mengungkapkan segala sesuatunya secara puitis sekali.
Suatu pengungkapan secara implisit,
samar dengan makna yang tersirat, di mana kata-kata condong pada artinya yang
konotatif – itulah sebenarnya yang dimaksudakan dengan puisi. Beda dengan ilmu
yang mengutamakan pemakaian kata-kata menurut pengertiannya yang denotatif,
sebagaimana tercantum dalam kamus. Tujuan puisi bukanlah melukiskan kebenaran,
melainkan memuja kebenaran dan “memberi jiwa” sesuatu gambaran yang lebih
indah. Prosa pada dasarnya menyodorkan suatu cara pengungkapan yang explisit,
mengurai atau menjelasterangkan segala sesuatunya. Antara prosa dengan
penulisan ilmiah tampak perbedaan dalam segi penerapan keindahan bahasa dan
jika mengambil perbandingan dengan gerak tubuh, maka pada prosa semisal orang
menari, sedangkan pada ilmu adalah gerak tubuh sebagaimana yang wajar.
Dalam puisi kita berhadapan dengan
suatu cara pengungkapan yang meyirat, maka dalam sajak tidak hanya itu, “materi
isi” atau subject-matter” juga tersirat.
Sajak adalah cermin ajaib, ketika manusia berkaca tampak sosok dirinya
dalam masa lalu, masa kini, masa mendatang bergalau disaputi kabut.
Dalam
sajak Boris Pasternak yang berjudul Batasan Sajak, dia menjawab tentang
definisi sajak.
Sajak
adalah siul melengking curam
Sajak
adalah gemertak kerucut salju beku
Sajak
adalah daun-daun menges sepanjang malam
Sajak
adalah dua ekor burung malam menyanyikan duel
Sajak
adalah manis kacang kapri mencekik mati
Sajak
adalah airmata dunia di atas bahu
(Terj.
Taufik Ismail)
2
SAJAK
MENGUNDANG ASOSIASI
BUKAN
INTERPRETASI
Kata H. B. Jassin, seorang kritikus
adalah seorang manusia biasa, yang pernah juga berbuat suatu kekeliruan. Ynag
sering dilakukan ialah seperti keliru bersikap sewaktu menghadapi sebuah sajak.
Baik sajak yang bagus atau sajak yang jelek sikapnya sama keduanya dianggap
sebuah obyek. Padahal sajak yang bagus (tidak mengandung cacat) sesungguhnya
itu bukan sebuah obyek tetapi sebuah subyek. Sebuah subyek yang mengundang
asosiasi pembaca, bukan mengundang interpretasi kita.
Sajak sendiri sudah tidak mampu
menjadikan dirinya sebuah subyek, dia menggelindingkan dirinya selaku sebuah
obyek untuk dianalisa, diinterpretasikan orang – para kritikus. Fungsi para
kritikus adalah memberi bimbingan apresiasi secara tidak langsung pada pembaca.
Lewat intuisi – berkat kematangan
apresiasi – kita akan dapat menentukan sebuah sajak yang sedang dihadapi itu
bernas atau kerempeng mutunya. Dalam menghadapi sebuah sajak yang sempurna,
yang digubah secara serius oleh penyairnya, maka sajak itu sendiri menjelma
menjadi sebuah subyek yang mengundang pembaca untuk berasosiasi.
Khusus untuk menghadapi sajak-sajak
yang tidak memiliki cacat, ada sebagian pendapat yang menyatakan bahwa Ganzheit bukan sebuah metode penilaian, hanya
merupakan suatu cara menikmati yang benar atas ciptasastra. Seorang kritikus
sewaktu menyodorkan kemampuannya menjembatani jurang yang terbentang di antara
pembaca awam dengan ciptasastra yang cukup berat ( Novel TELEGRAM: Putut Wijaya
misalnya) pada hakekatnya dia condong berbicara selaku orang esais, beresai
tentang rimba berkabut yang merupakan esensi dunia seni.
3
ARTI
KOMUNIKASI
DALAM
SEBUAH
SAJAK
Dalam penulisan prosa tidak jarang
sang pengarang mengambil pena dan kertas atau menghadapi mesin tulis. Meski di
belum tahu tema apa yang akan ditulisnya. Setelah berapa kali menyobek kertas,
pada akhirnya tulisannya berupa cerpen misalnya. Berbeda dengan penulisan
puisi, hal semacam itu tidak mungkin terjadi. Jika penyair tetap menghadapi
kertas kosong yang bisa saja sebuah sajak terwujud – tapi sajak kosong.
Terdapat dua faktor dominan mengenai
perbedaan penulisan prosa dan puisi yang masing-masing berdiri sendiri.
a.
Faktor pikiran yang mempunyai andil
paling besar di bidang prosa. Kelincahan pikiran memungkinkan seorang pengarang
mudah menemukan tema serta menjalin plot.
b.
Faktor perasaan yang mempunyai andil di
bidang puisi. Faktor erasaan yang statis mengharuskan seorang penyair sigap
menangkapnya pada saat yang tepat.
Dengan demikian arti komunikasi
dalam prosa adalah tidak terlepas kaitannya dengan pemikiran-pemikiran yang
matang atas hidup dan kehidupan manusia sejagat. Para penyair tidak menyodorkan
pemikiran yang falsafi tapi menghibur pembaca dengan nyanyian-nyanyian yang
falsafi. Tidak berfilsafat tapi nyanyiannya itu sendiri sudah digelantungi
sikap hidup yang penuh kearipan seorang filsuf.
Banyak orang keliru bersikap
menghadapi sebuah sajak. Pada hakekatnya sebuah sajak tak ubahnya sebatabg
rokok. Orang yang tidak pernah merokok pastilah sikapnya hambar, acuh tak acuh
dalam menghadapi sebatang rokok – cap Gudang Garam sekalipun. Seperti halnya
rokok orang tidak mungkin bisa menikmati sebuah sajak sonder keintiman bergaul
padanya terlebih dulu.
4
BOBOT
DALAM
PUISI
Bobot adalah pencerminan dari
kedewasaan atau kematangan seseorang selau penyair. Mengingat gelar penyair
tidak bisa diperoleh lewat kuliah di perguruan tinggi, tidaklah berarti lantas
mengabaikan intelektualisme. Intelektualisme sudah ada jauh sebelum lembaga
perguruan tinggi didirikan orang. Yang dimaksudakan adalah tidak lain daripada
kedewasaan atau kematangan cara berpikir yang akan mempengaruhi sikap kita
dalam menanggapi kehidupan yang menjadi sumber puisi.
Di samping banyak membaca dan latihan,
pendewasaan atau kematangan berkarya dapat kiata gapai pengisian buku catatan
harian yang di dalamnya terdapat petanyaan dan jawabannya. Pendek kata yang
dipertanyakan dan jawabannya adalah semua segi dalam perpuisian. Dengan
mengajukan pendapat sendiri, itu sudah merupakan proses pendewasaan diri untuk
matang berpikir memecahkan suatu persoalan. Berbobot tidaknya puisi anda,
seperti ujar penyair Rainer Maria Rilke, tidak mungkin ditentukan oleh orang
lain selain diri anda sendiri. Orang lain hanya membimbing, dan langkah
selanjutnya tergantung dari kekuatan kaki anda sendiri.
5
RAHASIA
PUISI
Salah satu rahasia yang sesungguhnya
tetap menjadi rahasia sepanjang masa adalah PUISI. Bentuk paling tua dari
kesusastraan dalam sejarah peradaban manusia adalah puisi. Puisi sudah banya
ditulis orang selama ini. Tapi yang mendekati kebenaran adalah apa yang dialami
oleh Carl Sanburg. Sampai usianya 36 tahun namanya masih asing dalam
kesusastraan Amerika. Ia mempunyai semboyan: “Seorang pengarang harus menulis
apa yang dipikirkannya dan seorang penyair harus menuliskan apa yang harus
dituliskannya. Sajak adalah membuka dan menutup pintu kamar penuh rahasia,
membiarkan orang menjenguk ke dalam untuk mereka apa yang kelihatan dalam
sejenak...”
Car Sanburg memuat beberapa buah
sajaknya dalam majalah “POETRY” pada tahun 1914. Salah satu sajaknya berjudul
“Chicago” ia mendapat hadiah Levinson dalam tahun itu juga sebesar 200 dollar.
Nyatalah bahwa rahasia puisi tidak mungkin dapat kita dekati dengan kemauan
setengah-setengah. Dibutuhkan kemauan yang bulat, karena hanya dengan kemauan
hati yang penuhlah seseorang berhasil mendekati untuk kemudian terseret ke
dalam pusaran penuh rahasia tersebut, menyatu dengan keserba-rahasiaan puisi,
akhirnya mengungkapkan kerahasiaan itu lewat gubahan puisi itu sendiri.
6
SEBUAH
SAJAK
ADALAH
SEBUAH LUKISAN
TAPI
KATA BUKANLAH CAT
Kata Chairil Anwar: Sebuah sajak
adalh sebuah lukisan. Artinya sajak tidak mungkin diuraikan atau dijelaskan apa
maksud artinya. Sesungguhnya bagi seorang pelukis cat adalah suatu “dunia” yang
sudah jadi taklukkannya. Tapi berbeda denga seorang penyair dalam menghadapi
kata-kata. Kata dalm puisi bukan seperti seekor kuda jinak yang gampang
dikendalikan. Kata dalam puisi lebih cenderungbertingkah penaka seekor kijang
dalam rimba, masih liar. Dan penyair dari waktu ke waktu perlu berikhtiar melasonya
atau menembaknya tepat di arah keningnya.
Contoh sajak Krishna Mustajab yang
berjudul “Tentang Sajak” yang terkumpul dalam buku puisinya “Sajak Adalah Sukma
Sejati” – terbitan Dewan Kesenian Surabaya 1975:
Sajak itu huruf yang
berkata
sajak itu
rokh
sajak itu
pil
obat
bagi
jiwa
yang ker
dil
Krishna terkenal sebagai pelukis dan
siakp yang sama rupanya melingkupi dirinya selaku seorang penyair – sikap telah
menaklukkan kata. Suatu sikap yang akhirnya mengakibatkan sajak yang
dituliskannya itu terasa kaku, tergenang. Dan lagi dalam keinginannya
menyatakan sesuatu, bahwa orang membaca saja pada hakekatnya tidak bertolak
dari keinginan tahu (seperti dalam menghadapi prosa), tapi sesungguhnya adalah
lantaran damba ditayang oleh sajak yang dihadapinya. – kesan dan kenangan masa
lalu, kesan masa kini atau cita masa depannya terwakili sedikit banyak dalam
sajak tersebut.
Sebuah sajak adalah sebuah lukisan.
Misal saja terlukis keindahan bulan purnama. Manakala kita tergelincir
memperbincangkan pula betapa para astronout menginjakkan kaki di permukaan
bulan serta bagaimana pengaruh sinar bulan terhadap kehidupan manusia, maka
sebenarnya gong sudah berbunyi – persoalan sudah tidak lagi soal lukisan selaku
suatu karya seni. Sebab seni lukis atau sajak sudah kehilangan fungsinya pada
saat penguraian dikenakan terhadapnya.
7
SIMBOLISME
Dalam puisi sang penyair condong
memperlakukan kata menurut sifatnya yang konotatif – memiliki arti sampingan
yang kadang sulit untuk ditebak lantaran merupakan duplikat dari pribadi sang
penyair, dalam arti pengalamannya pada suatu saat tertentu.
Dalam dunia prosa sebaliknya – pengarang
cenderung meraih kata pada sifatnya yang denotatif, yang tersurat atau arti
sebagaimana keterangan dalam kamus. Dengan kata lain, di mata pembaca kata-kata
menjadi liar di tangan penyair, keliaran mana berubah menjadi jinak setelah
berada di tangan pengarang.
Seorang penyair membutuhkan suatu
alat untuk melapangkan jalan alias landasan
untuk meluncurkan pikiran maupun perasaannya secara ringkas bernas. Alat
itu bernama SIMBOL atau PERLAMBANG. Warna merah dan putih pada bendera
Indonesia adalah simbolik. Warna hijau dalam judul sajak Sitor “ Surat Kertas
Hijau” adalah simbolik.
Simbolisme sebagai suatu aliran
dalam kesusastraan, dimulai oleh beberapa penyair Perancis – Mallarme, Rimbaud,
Verlaine dan Baudelaire.
Bermula dari teori Poe mereka mengatakan
bahwa teknik menulis puisi sebenarnya sama dengan matematika. Setiap kata di
dalam suatu sajak harus serentak memuat dalam dirinya: imaji, feeling,
pemikiran dan perlambangan. Kaum simbolis sangat mengutamakan asosiasi-asosiasi
yang dapat dicapai dengan pengindraan kita dalam memilih imaji, ditambah dengan
pengaruh Freud dan Jung mengenai dunia sadar. Imaji adalah sesuatu yang kita
peroleh dari dunia luar diri kita dan kita lambangkan dengan kata-kata. Tapi
kata-kata mesti dipilih yang sugestif dan memikat juga bermakna hingga sanggup
juga menyiratkan baik feeling, pemikiran ataupun abstraksi kita.
8
APAKAH
MANTERA ITU
TERMASUK
CIPTASASTRA?
Keindahan yang memancar dari setiap
ciptaseni, dapat kita sebut puisi. Pengertian puisi memiliki kaitan dengan
kesusastraan. Kesusastraan adalah kreasi manusia, sebuah situasi di mana
manusia berada dalam kancah pergulatan dengan bahasa. Manusia menciptakan
kesenian dengan bahasa sebagai alatdan juga sebagai bahannya.
Semua Kitab Suci adalah puisi, tapi
tidak bisa kita masukkan kesusasatraan lantaran bukan hasil ciptaan manusia.
Dia itu ciptaan Tuhan, nyanyian Tuhan yang direkam manusia yang kita sebut
Nabi. Demikian pula dengan para dukun yang merekam suara makhluk halus yang
hasil rekamannya dinamakan mantera. Sebuah mantera pada hakekatnya terdiri dari
bunyi-bunyi yang membangun suatu irama tertentu – katakanlah itu bahasa dari
makhluk halus. Yang tidak mengandung makna apa-apa bagi kita, karena kita tidak
punya kepentingan dialog dengan mereka. Sehingga mantera dapat dikatakan tidak
termasuk ciptasastra karena tidak komunikatif antar manusia.
9
ANYAMBEMEN
Sajak-sajak experimental di tanah
air belakangan ini adalah pemerkosaan sang penyajak ANYAMBEMEN. Anyambemen adalah pemenggalan kata dalam
baris (larik) untuk kemudian memindahkannya ke baris berikutnya. Barang tentu
sam-sama tidak kita inginkan adanya patokan-mati untuk ini, tergantung intuisi
kita masing-masing, pokoknya: ada kesadaran peningkatan diri dalam suatu
kemahiran beranyambemen.
10
DI
BELAKANG
KEINDAHAN
SEBUAH
SAJAK
Kata Leo Tolstoy, ada tiga pilar
penopang keindahan sebuah karya seni, yaitu bentuk, isi dan kejujuran. Mengenai
bentuk terdapat bentuk prosa dan puisi. Di bidang puisi penyair dengan
bermodalkan bahasa dapat membentuk bentuk yang khas dalam puisi, apakah itu
baris atau larik, bait lengkap dengan penerapan metafora, simbolisme dan
sebagainya.
Isi sebuah sajak jauh berbeda
maknanya dengan isi sebuah cerpen, novel atau drama. Isi sebuah sajak dilingkup
misteri. Maksudnya adalah sesuatu hal yang tidak dapat diurai, apa yang
terkandung dalam sajak yang diciptakannya. Seperti musik, lukisan, tarian – pun
tak dapat diurai secara tuntas.
Kejujuran di pihak penyair sudah
barang tentu merupakan jaminan. Pembaca yang sudah gandrung pada puisi, mereka
akan berusaha terlebih dahulu untuk mendapatkan sajak-sajak buah tangan penyair
tertentu yang telah memberi jaminan atas kejujurannya menciptakan puisi.
11
PUISI
TRANSPARAN DAN PRISMATIS
Persajakan terbagi dalam dua
golongan. Golongan puisi transparan (sering disebut diaphan) dan golongan puisi
prismatis. Transparan berarti jernih, bening. Puisi transparan, akan mudah
diluluhkan oleh para pembaca atau berakrab dengan isi dari sajak yang tengah
dihadapi. Sementara puisi prismatis adalah sebaliknya. Sesuatu yang ada di
belakang sebuah prisma teramat sukar
tertangkap oleh mata.
12
PROSES
LAHIRNYA SEBUAH SAJAK
Proses pendulangan proses
pengesahan. Tangkap atau rekamlah keseluruhan isi sajak terlebih dahulu. Jangan
libatkan diri dengan proses pengesahan sementara isi sajk belum tercurah tuntas
di atas kertas. Dan pada saat tiada lagi yang mesti ditulis barulah proses
pengesahan dilakukan. Mengganti
kata-kata dengan yang lebih tepat misalnya, megatur bait, irama dan sebagainya
yang menyangkut aspek bentuk, pada tahap inilah dikerjakan.
13
SUTARDJI
CALZOUM BACHRI, BIR DAN KREATIVITAS
Sebuah kredo, di mana Sutardji mencanangkan
perpisahannya dengan makna kata untuk kemudian “mengawini” mana kata, yaitu
nilai magis yang dia coba gali dari anasir bunyi suatu rangkaian kata. Daya
pukau yang dihasilkan rangkaian kata tertentu, itulah yang disebut orang
mantera. Mantera sebagai salah satu unsur yang terdapat dalam efek-efek
penulisan sastera, saya terima. Tapi kemutlakannya yang mau tak mau mesti
mengkafirkan makna kata dalam sebuah sajak – inilah yang saya tolak
mentah-mentah atau apriori.
Mengenai bir sesungguhnya Sutardji
bkanlah orang yang tergolong MC (over juga tidak) yang butuh bir atau minuman
keras lainnya demi ketenangan diri menghadapi khalayak ramai. Orangnya malah
sederhana dan memiliki percaya diri yang kuat berkat intelektualisme maupun
dedikasi/integritas dirinya dalam kesenian umumnya dan perpuisian pada
khususnya.
Dalam kehidupan persajakan modern
Indonesia sepanjang sejarahnya mulai dari Pujangga Baru sampai dengan generasi
angkatan “66, boleh dikatakan belum ada bangun sajak seperti sajk-sajak
Sutardji. Dalam hal pemilihan kata-kata tampaknya sajak-sajak tidak banyak
memperlihatkan perubahan-perubahan. Kata-kata yang digunakan tidak jauh berbeda
dengan kata-kata yang dipakai oleh penyair lain. Ini tentu memiliki tujuan
khusus sebagai penyair yang ingin
membebaskan kata dari maknanya, sehingga hasilnya adalah sebuah sajak
yang dekat dengan asal-usulnya, yaitu mantera. Sutardji bukanlah pencipta dalam
arti semurni-murninya, tetapi berhasil menggunakan unsur-unsur pokok kekuatan
mantera untuk ciptakan sajak-sajak modern. Dengan kata lain, Sutardji adalah
seorang penggali yang berhasil mengolah esensi puisi yang paling awal dalam
lingkungan situasi modern.
BAGIAN DUA
PROSA
1
DAYA
PIKAT
SEBUAH
CERITA PENDEK
Pembaca terbagi menjadi dua. Ada
yang hanya ingin tahu isi cerita – dan tidak ambil pusing terhadap “style” atau
gaya sang pengarang. Ceritanya ini bersifat “commercialstory” di majalah atau
koran hiburan untuk golongan pembaca awam. Dan ada pembaca yang hanya berminat
membaca ceritra yang termasuk jenis “quality story” di mana sang pengarang
mempertaruhkan namanya dalam arti berusaha meningkatkan prestasi karirnya
selaku sastrawan dalam setiap hasil karyanya.
Dalam
kesusastraan yang menjadi daya pikat pertama adalah nam pengarang. Tahap
pertama yang dia usahakan mati-matian adalah popularitas namanya sebagai
pengarang yang tentunya sonder mengabaikan mutu dari setiap karyanya.
Menghadapi sebuah cerpen, daya pikat
yang pertama terletak pada halaman awal terutama tergantung pada kepandaian
pengarang membuka ceritra. Cerpen dan Novel pada hakekatnya adalah seni
berceritra. Itulah sebabnya mengapa hampir semua pengarang senior menganjurkan
agar para calon pengarang cerpen banyak-banyak membaca cerpen karya pengarang
yang sudah masyhur..
Dengan membaca, perbendaharaan
seseorang bertambah kaya dengan pengenalan aneka ragam style para pengarang dan
hal ini nantinya bakal memupuk intuisi kita yang teramat diperlukan dalam
proses penulisan. Intuisi sesungguhnya pegang peranan penting dalam proses
kreatif.
2
ALINEA
AWAL DAN AKHIR
SEBUAH
CERPEN
Guy de Maupassant dan Anton Chekov
adalah pengarang kaliber dunia yag dalam sejarah sastra merupakan “bapak” dari
Ceritra Pendek yang kemudian oleh Ajip Rosidi tempohari disingkat menjadi
Cerpen dan akhirnya akronim tersebut populer dipakai sampai hari ini.
Membaca
sebuah cerpen dengan perhatian condong pada isi ceritra semata adalah suatu
kekeliruan yang tak dapat dimaafkan dalam sastra.
Alinea pertama sebuah cerpen itu,
sebenarnya adalah merupakan pilihan terakhir sang pengarang setelah dia
berulang kali menurunkan kertas naskah yang gagal dari mesin tulisnya. Seorang
pengarang mesti lihai di mana dia harus mengakhiri ceritanya dan dengan cara
bagaimana dia harus mengungkapkan alinea akhir. Seorang pengarang yang baik
akan selalu menyadari bahwa pembaca tidak suka digurui, biarkanlah mereka
sendiri yang mengambil kesimpulan atas cerita yang dibacanya.
3
UNSUR
CERITRA
DALAM
CERITRA
PENDEK
Orang awam sering keliru menyangka
apa yang dibacanya adalah cerpen padahal sebenarnya masih merupakan sebuah
Kisah atau Sketsa semata. Sebuah cerpen atau Short-story dalam bahasa Inggris
pada dasarnya menuntut, jelasnya mengadakan tuntutan berupa kemestian adanya
perwatakan jelas pada tokoh ceritra. Sang tokoh merupakan sentral-ide dari
ceritra. Ceritra bermula dari sang tokoh dan nantinya berakhir pada “nasib” apa
yang menimpa sang tokoh itu pula. Unsur perwatakan ebih dominan daripada unsur
ceritra itu sendiri. Membaca sebuah cerpen berarti kita mencoba berusaha
memahami manusia bukan sekedar ingin mengetahui jalan ceritranya. Beda dengan
sebuah novel di mana kedudukan perwatakan dan jalan ceritara berada dalam suatu
keseimbangan dalam arti ibarat uang kertas atau logam yang bagian depan serta
belakang sama pentingnya. Timbal-balik. Penonjolan segi perwatakan biasanya
dilakukan pengarang lewat dialog-dialog yang wajar dan pemberian nama yang
lengkap pada pelaku ceritra.
4
HUMOR
DAN PERBANDINGAN
DALAM
SEBUAH CERPEN
Sebuah Cerita Pendek (Cerpen)
sebagai karya seni, yaitu seni sastra atau kesusasatraan tidak bisa dipisahkan
antara isi dan bentuknya. Isi yang menarik serta punya bobot mau tak mau mesti
diimbangi pula dengan bentuk yang memuaskan – gaya bahasa dan gaya berceritra
sang pengarang. Mengenai stilistika sebagai ilmu pengetahuan belum menjamin
dirinya untuk menjadi seorang pengarang karena stilistika hanya menyorot segi
bentuk sebuah karangan. Sedangkan ciptasastra adalah terdiri dari bentuk dan
isi.
Perbandingan, di samping fungsinya
menghidupkan suasana ceritra dan memberi warna pada nuansa-nuansa tertentu yang
ingin ditonjolkan pengarang, juga sering dimanfaatkan oleh pengarang dalam
usahanya menampilkan efek berhumornya. Dapat kita rasakan pada cerpen-cerpen
Pramudya tempohari atau Mochtar Lubis. Bagi mereka yang ingin mempelajari
pemakaian perbandingan rasanya cukup apabila membaca buku novel Achdiat K.
Mihardja, ATHEIS.
5
SOROTBALIK
(FLASH-BACK)
Dalam penulisan Cerpen, bagi mereka
yang baru mulai berlatih memang sangat dirasakan kesulitan sewaktu menerapkan
teknik sorotbalik atau flash back. Melukiskan sepasang muda-mudi yang sedang
memadu kasih di sebuah tempat tamsya misalnya, pengarang ingin menggambarkan
isi kenangan yang melingkupi si tokoh lelaki, di mana tempohari di tempat yang
sama dia pernah bersanding dengan cewek lain yang akhirnya tercaplok orang lain
yang lebih gesit.
Pengarang menghadapi dua pilihan.
Apakah akan melukiskan kenangan sang tokoh secara langsung ataukah denga tidak
langsung. Jelasnya, kalau secara langsung maka pengarang mesti melukiskan
peristiwa tempohari tersebut secara tiga dimensi – para pelaku diberi
kesempatan, berdialog sesuai dengan daya ingatan tokoh yang terkenang tadi.
Pilihan yang kedua adalah pelukisan
secara tidak langsung. Cara ini mengandung risiko yang sangat besar, yaitu
pembaca jadi bosan lantaran ceritra akhirnya tidak terasa hidup – kering dalam
dua dimensi.
Kadangkala sorotbalik diterapkan
pengarang terkenal dengan cara sedemikian uniknya, seolah pengarang mau
menjebak pembaca – dengan cara halus pengarang mempersilakan pembaca untuk ikut
kreatif dan kritis. Tehnik semacam ini kita jumpai dalam karya Putu Wijaya,
novel TELEGRAM.
Yang perlu diperhatikan dalam
menerapkan sorotbalik dalam sebuah cerpen ialah menjaga keseimbangan, jangan
sampai suatu sorotbalik demikian berkepanjangan dalam arti bertele-tele
terlepas dari efek penulisan sorotbalik itu sendiri yaitu menghadirkan
nuansa-nuansa peristiwa atau perwatakan para pelaku ceritra.
6
PERWATAKAN
PELAKU
CERITRA
Tidak semua ceritra yang pendek
adalah cerpen. Dan yang menjadi ciri khas sebuah cerpen adalah adanya
perwatakan pelaku ceritra. Tidak seperti dalam penulisan novel atau lakon drama
– menyebabkan segi perwatakan tidak mungkin digarap sempurna. Tapi ini tidaklah
berarti bahwa pengarang boleh melalaikannya dalam penulisan sebuah cerpen.
Khusus mengenai perwatakan pelaku
ceritra Anthony Trollope dalam otobiografinya, bahwa: pertama pengarang harus
mempunyai ceritra untuk diceritakan. Salah satu hal yang harus diperhatikan
pula ialah bahwa orang-orang dalam cerita itu harus bicara dengan bahasa yang
cocok baginya. Yang memikat orang dalam menikmati sebuah cerpen bukan semata
oleh isi cerita yang menarik hati, karena menarik hati merupakan unsur yang
dominan, tetapi yang pokok ialah menemukan watak-watak orang yang telah
digarisbawahi oleh pengarang.
7
PLOT
Baik cerpen maupun novel dapat
digolongkan dalam beberapa jenis, seperti: cerita ide, cerita psikologi dan
cerita PLOT. Dr. Boen S. Oemarjati mengutip pendapat Renek Wellek yang
mengatakan bahwa p l o t adalah struktur perceritaan. Sedangkan Hudson
mengatakan bahwa p l o t adalah rangkaian kejadian dan perbuatan, rangkaian
hal-hal yang diderita dan dikerjakan oleh pelaku-pelaku sepanjang roman/novel
yang bersangkutan. Kesimpulannya bahwa p l o t adalah struktur penyusunan
kejadian-kejadian dalam cerita tapi yang disusun secara logis.
Dalam bahasa Indonesia kata plot
adalah alur. Berkat adanya alur yang tergali oleh intuisi pengarang menyebabkan
“isi cerita” lantas mengalir secara teratur, segala peristiwa merentet secara
runtut, tidak kacau balau.
8
RENUNGAN-RENUNGAN
DALAM
KARYA
SASTRA
PENGARANG itu ada dua. Tukang cerita
dan Sastrawan. Yang ditulisnya adalah commercial-story. Pada umumnya mereka
tidak sempat menghiasi karangannya, dengan renungan kehidupan. Renungan atas
kehidupan merupakan suatu ciri khas yang senantiasa terdapat dalam karya
sastra. Inilah sebabnya mengapa cerita-serita detektif sepanjang sejarah tidak
diklasifikasikan hasil kesuasastraan. Lantaran pengarang tidak sempat
menggeluti renungan kehidupan tersebut. Yang diutamakan adalah banyak peristiwa
yang terjadi dan merahasiakan biang keladi dari suatu kasus kejahatan barulah
pengarang membongkarnya pada akhir cerita.
9
FUNGSI
CATATAN HARIAN
DALAM
KARANG-MENGARANG
Dalam dunia karang-mengarang
diperlukan latihan semacam seorang pelukis, hanya saj tidak bergelimang dengan
cat tapi dengan kata-kata: latihan menyusun kalimat dan latihan menerapkan
pelbagai gaya pengungkapan. Dan catatan harian adalah wadah yang dipakai oleh
para pengarang untuk ini. Bahan tulisan bisa saja, segala kesan dan kenangan
siang tadinya, masa lalu seperti masa kanaknya adalah senantiasa menarik untuk
direkam dalam bahasa. Penyair mengisi buku catatan hariannya dengan coba
menyusun jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ang mungkin sekali tempo
diajukan orang pada dirinya selaku penyair. Dengan banyak membaca kita lantas
mengetahui apa-apa yang pernah dikatakan orang dan dengan mengisi catatan
harian berarti kita berusaha menyimpulkan pendapat mereka tersebut sesuai
dengan keyakinan dalam diri kita sendiri dan sesungguhnya pada dasarnya orang
ingin mengetahui pendapat diri kita pribadi.
10
KRITIK
DAN ESAI
Ada dua bidang penulisan, yaitu
dalam bentuk K r i t i k dan E s a i.
Esai dapat diklasifikasikan menjadi dua: yang obyektif dan yang
subyektif. Yang pertama sering diberi predikat “Sebuah Studi” dan satunya lagi
“Sebuah Esai Kecil”. Sebua tulisan barulah dapat disebut esai apabila karangan
itu ditulis tidak secaraacak-acakan, gaya bahsa dan cara pengungkapannya
memikat hati. Materi sebuah esai tidaklah persoalan sastra melulu. Seni lainnya
atau politik, sejarah, religi, filsafat dan sebagainya, bahkan masalah esai itu
sendiri bisa digarap, sebagaimana pernah dilakukan oleh Arief Budiman dalam
majalah Horison tempohari: “Esai Tentang Esai”.
Tentang kritik dianggap sebagai
bidang yang sangat angker. Raksasa yag menguasai dunia penuh keangkeran buat
para seniman ini bernama k r i t i k u
s. Di bidang esai raksasa hanya bermaksud pamer kesaktian, tapi di bidang
kritik mereka mulai gentayangan mencari mangsa – dengan rakus diganyangnya
kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam sesuatu karya seni.
11
CERITA
PICISAN,
POPULER
DAN SASTRA
Berdasarkan sifat yang terpancar
daripadanya yang merupakan akibat dari sikap pengarangnya dalam merampungkannya
maka dapt dibagi menjadi tiga kategori: yang picisan, yang populer dan yang
sastra. Cerita picisan pun populer, di kalangan orang awam. Pengarang tak perlu
capek-capek, tampilkan pelaku laki dan perempuan kemudian praktekkan
ketrampilan berbohong (Hamka pernah bilang dengan nada guyon: semakin pintar
seseorang menyusun kebohongan makin mashurlah dia selaku pengarang) yaitu
menyusun jalinan cerita dengan pengarahan pada kasak-kusuk di tempat tidur.
Cerita populer (popular-fiction),
pada umumnya kalangan pembacanya menaruh perhatian yang cukup serius pada nama
pengarang cerita yang dibacanya. Jadi
jauh beda dengan kalangan pembaca cerita picisan – yang acuh tak acuh, untuk
tidak mengatakan tidak ambil pusing sama sekali. Cerita populer, khususnya yang
berbentuk novel biasanya dapat kita tandai dari sikap pengarang dalam
mengungkap kehidupan. Pengarang cenderung pada isi daripada bentuk yang
mencakup gaya bahasa dan gaya bercerita.
Cerita yang bernilai sastra, tidak
selamanya diberati oleh filsafat, psikologi. Sastra tidak akan pernah melampaui
cerita-populer. Terpencilnya sastra dalam masyarakat tanah air selama ini, itu
bukan salah sastrawan atau masyarakat-sastra tetapi adalah kesalahan dari para
penerbit buku yang telah mengabaikan fungsi iklan buku.
12
SASTRA
DAN JURNALISTIK
Sastra dan jurnalistik adalah dua
bidang penulisan yang berbeda, yang masing-masing bidang tersebut membutuhkan
kemampuan tersendiri dari seseorang yang akan berkecimpung di dalamnya. Yang
merupakan perbedaan yang teramat menyolok, merupakan suatu fakta yang diakui
oleh semua orang termasuk para ahli di kedua bidang tersebut, yaitu bahwa
sastra tidak mungkin dapt dipelajari oleh semua orang dalam rangka memperoleh
gelar sastrawan..
Sebaliknya gelar wartawan adalah
memungkinkan untuk digapai setiap orang lewat suatu pendidikan yang khusus.
Jurnalistik sebagai sebuah ilmu mengundang siapa saja yang ingin mendapat gelar
Sarjana Publisistik.
Kalau seorang pelukis mencipta
keindahan dengan cat, seorang penari dengan gerak, musikus dengan bunyi maka
seorang sastrawan mencipta keindahan dengan bahasa. Itulah sebabnya
kesusastraan disebut juga seni bahasa atau seni sastra. Bahasa adalah hanya
alat untuk komunikasi dengan pembaca/pendengar. Para wartawan mau tidak mau
mesti berpacu dengan waktu. Masing-masing ingin menyaingi yang lain dalam
mengejar suatu berita. Semboyan “time is money” terus terngiang di telinga
wartawan, setiap saat kemana pun ia pergi.
Dalam hubungan saling ambil dan
memberi antara sastra dan jurnalistik inilah mengapa dewasa ini berkembangkang
dengan pesat suatu cara penulisan dalam dunia jurnalistik – pengaruh sastra
dalam jurnalistik – yang di Indonesia dipelopori oleh majalah berita TEMPO.
13
NOVEL
DAN
ROMAN
Istilah ROMAN sebagi suatu bentuk
prosa sepanjang pengetahuan saya hanya terdapat di Indonesia. Mulanya sejak
zaman penjajahan Belanda istilah tersebut dipakai orang sebagai terjemahan
bahasa Indonesia untuk istilah asing NOVEL. Konon pada sebuah Roman terdapat
lebih banyak pelaku cerita tinimbang sebuah novel. Sebuah roman memungkinkan
pengarang untuk memasukkan pelaku cerita sebanyak mungkin. Dan masing-masing boleh menempuh jalan cerita
sendiri-sendiri pokoknya nanti pada akhir cerita mereka mesti ketemu satu
tempat tujuan.Berbeda dengan roman, sebuah novel paling banyak mengandung
dua-tiga orang pelaku penting termasuk seorang yang menjadi pelaku utama.
Perbedaan antara NOVELETTE dengan
LONG SHORT-STORY. Novelette adalah novel pendek. Dan tidak jarang sebuah buku
novelette lebih tipis daripada Long Short-Story (cerpen panjang). Sebuah cerpen
panjang kita tandai dari keterbatasan scope atau tinjauan pengarang terhadap
problem kehidupan pelaku cerita.
Dengan demikian sebuah novelette
adalah ibarat singkatan dari sebuah novel. Beda dengan sebuah cerpen panjang –
sebuah cerita yang berdiri sendiri, meski panjang tapi tidak pernah teramat
jauh meninggalkan radius keterpencilannya selaku sebuah cerpen.
14
PROSES
RAMPUNGNYA
SEBUAH
CERPEN
Faktor suasana hati (mood) pegang
peranan penting dalam proses penciptaan karya sastra. Ada segi baik ada segi
buruknya mengandalkan suasana hati ini.
Segi baiknya, yang dapat kita catat:
menjauhkan kita dari kerja terburu-buru. Setiap persoalan dalam kehidupan
memperoleh sorotan cukup mendalam dan mesra. Semuanya mesti berada dalam
rangkaian yang harmonis pada struktur cerita. Dibutuhkan kesabaran luar biasa
di samping konsentrasi yang penuh serta daya membayangkan (image) dan daya
mengingat yang kuat.
Segi buruknya, proses kreatif
mengandalkan suasana hati ini, ialah sering terbengkalainya serpen yang sedang
kita tulis. Baru pertengahan atau duapertiga selesai, apabila tiba-tiba datang
gangguan yang merusakkan suasana hati tadi, maka jangan harap cerpen dapat
dirampungkan dengan tuntas. Syukur kalau hanya tertunda, tapi brengseknya
seringkali saya sia-sia untuk dapat menyelesaikannya. Buyar semua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar