Rabu, 16 April 2014


MUHAMMAD IMAM AKBAR
1125020063
BSA IV B

APRESIASI
PUISI
dan
PROSA

(PUTU ARYA TIRTAWIRYA)


BAGIAN SATU
PUISI


1
PUISI LAWAN KATANYA BUKAN PROSA TAPI ILMU
PROSA LAWAN KATANYA BUKAN PUISI TAPI SAJAK

            Sajak adalah puisi tetapi puisi belum tentu sajak. Dalam bahasa Inggris puisi itu poetry, mungkin saja terdapat dalam prosa seperti cerpen, novel atau esai. Sehingga banyak orang yang mengatakan pengarang mengungkapkan segala sesuatunya secara puitis sekali.
            Suatu pengungkapan secara implisit, samar dengan makna yang tersirat, di mana kata-kata condong pada artinya yang konotatif – itulah sebenarnya yang dimaksudakan dengan puisi. Beda dengan ilmu yang mengutamakan pemakaian kata-kata menurut pengertiannya yang denotatif, sebagaimana tercantum dalam kamus. Tujuan puisi bukanlah melukiskan kebenaran, melainkan memuja kebenaran dan “memberi jiwa” sesuatu gambaran yang lebih indah. Prosa pada dasarnya menyodorkan suatu cara pengungkapan yang explisit, mengurai atau menjelasterangkan segala sesuatunya. Antara prosa dengan penulisan ilmiah tampak perbedaan dalam segi penerapan keindahan bahasa dan jika mengambil perbandingan dengan gerak tubuh, maka pada prosa semisal orang menari, sedangkan pada ilmu adalah gerak tubuh sebagaimana yang wajar.
            Dalam puisi kita berhadapan dengan suatu cara pengungkapan yang meyirat, maka dalam sajak tidak hanya itu, “materi isi” atau subject-matter” juga tersirat.  Sajak adalah cermin ajaib, ketika manusia berkaca tampak sosok dirinya dalam masa lalu, masa kini, masa mendatang bergalau disaputi kabut.
Dalam sajak Boris Pasternak yang berjudul Batasan Sajak, dia menjawab tentang definisi sajak.
Sajak adalah siul melengking curam
Sajak adalah gemertak kerucut salju beku
Sajak adalah daun-daun menges sepanjang malam
Sajak adalah dua ekor burung malam menyanyikan duel
Sajak adalah manis kacang kapri mencekik mati
Sajak adalah airmata dunia di atas bahu
(Terj. Taufik Ismail)

2
SAJAK MENGUNDANG ASOSIASI
BUKAN INTERPRETASI

            Kata H. B. Jassin, seorang kritikus adalah seorang manusia biasa, yang pernah juga berbuat suatu kekeliruan. Ynag sering dilakukan ialah seperti keliru bersikap sewaktu menghadapi sebuah sajak. Baik sajak yang bagus atau sajak yang jelek sikapnya sama keduanya dianggap sebuah obyek. Padahal sajak yang bagus (tidak mengandung cacat) sesungguhnya itu bukan sebuah obyek tetapi sebuah subyek. Sebuah subyek yang mengundang asosiasi pembaca, bukan mengundang interpretasi kita.
            Sajak sendiri sudah tidak mampu menjadikan dirinya sebuah subyek, dia menggelindingkan dirinya selaku sebuah obyek untuk dianalisa, diinterpretasikan orang – para kritikus. Fungsi para kritikus adalah memberi bimbingan apresiasi secara tidak langsung pada pembaca.
            Lewat intuisi – berkat kematangan apresiasi – kita akan dapat menentukan sebuah sajak yang sedang dihadapi itu bernas atau kerempeng mutunya. Dalam menghadapi sebuah sajak yang sempurna, yang digubah secara serius oleh penyairnya, maka sajak itu sendiri menjelma menjadi sebuah subyek yang mengundang pembaca untuk berasosiasi.
            Khusus untuk menghadapi sajak-sajak yang tidak memiliki cacat, ada sebagian pendapat yang menyatakan bahwa  Ganzheit bukan sebuah metode penilaian, hanya merupakan suatu cara menikmati yang benar atas ciptasastra. Seorang kritikus sewaktu menyodorkan kemampuannya menjembatani jurang yang terbentang di antara pembaca awam dengan ciptasastra yang cukup berat ( Novel TELEGRAM: Putut Wijaya misalnya) pada hakekatnya dia condong berbicara selaku orang esais, beresai tentang rimba berkabut yang merupakan esensi dunia seni.


3
ARTI KOMUNIKASI
DALAM
SEBUAH SAJAK

            Dalam penulisan prosa tidak jarang sang pengarang mengambil pena dan kertas atau menghadapi mesin tulis. Meski di belum tahu tema apa yang akan ditulisnya. Setelah berapa kali menyobek kertas, pada akhirnya tulisannya berupa cerpen misalnya. Berbeda dengan penulisan puisi, hal semacam itu tidak mungkin terjadi. Jika penyair tetap menghadapi kertas kosong yang bisa saja sebuah sajak terwujud – tapi sajak kosong.
            Terdapat dua faktor dominan mengenai perbedaan penulisan prosa dan puisi yang masing-masing berdiri sendiri.
a.    Faktor pikiran yang mempunyai andil paling besar di bidang prosa. Kelincahan pikiran memungkinkan seorang pengarang mudah menemukan tema serta menjalin plot.
b.    Faktor perasaan yang mempunyai andil di bidang puisi. Faktor erasaan yang statis mengharuskan seorang penyair sigap menangkapnya pada saat yang tepat.
            Dengan demikian arti komunikasi dalam prosa adalah tidak terlepas kaitannya dengan pemikiran-pemikiran yang matang atas hidup dan kehidupan manusia sejagat. Para penyair tidak menyodorkan pemikiran yang falsafi tapi menghibur pembaca dengan nyanyian-nyanyian yang falsafi. Tidak berfilsafat tapi nyanyiannya itu sendiri sudah digelantungi sikap hidup yang penuh kearipan seorang filsuf.
            Banyak orang keliru bersikap menghadapi sebuah sajak. Pada hakekatnya sebuah sajak tak ubahnya sebatabg rokok. Orang yang tidak pernah merokok pastilah sikapnya hambar, acuh tak acuh dalam menghadapi sebatang rokok – cap Gudang Garam sekalipun. Seperti halnya rokok orang tidak mungkin bisa menikmati sebuah sajak sonder keintiman bergaul padanya terlebih dulu.


4
BOBOT
DALAM PUISI

            Bobot adalah pencerminan dari kedewasaan atau kematangan seseorang selau penyair. Mengingat gelar penyair tidak bisa diperoleh lewat kuliah di perguruan tinggi, tidaklah berarti lantas mengabaikan intelektualisme. Intelektualisme sudah ada jauh sebelum lembaga perguruan tinggi didirikan orang. Yang dimaksudakan adalah tidak lain daripada kedewasaan atau kematangan cara berpikir yang akan mempengaruhi sikap kita dalam menanggapi kehidupan yang menjadi sumber puisi.
            Di samping banyak membaca dan latihan, pendewasaan atau kematangan berkarya dapat kiata gapai pengisian buku catatan harian yang di dalamnya terdapat petanyaan dan jawabannya. Pendek kata yang dipertanyakan dan jawabannya adalah semua segi dalam perpuisian. Dengan mengajukan pendapat sendiri, itu sudah merupakan proses pendewasaan diri untuk matang berpikir memecahkan suatu persoalan. Berbobot tidaknya puisi anda, seperti ujar penyair Rainer Maria Rilke, tidak mungkin ditentukan oleh orang lain selain diri anda sendiri. Orang lain hanya membimbing, dan langkah selanjutnya tergantung dari kekuatan kaki anda sendiri.


5
RAHASIA PUISI

            Salah satu rahasia yang sesungguhnya tetap menjadi rahasia sepanjang masa adalah PUISI. Bentuk paling tua dari kesusastraan dalam sejarah peradaban manusia adalah puisi. Puisi sudah banya ditulis orang selama ini. Tapi yang mendekati kebenaran adalah apa yang dialami oleh Carl Sanburg. Sampai usianya 36 tahun namanya masih asing dalam kesusastraan Amerika. Ia mempunyai semboyan: “Seorang pengarang harus menulis apa yang dipikirkannya dan seorang penyair harus menuliskan apa yang harus dituliskannya. Sajak adalah membuka dan menutup pintu kamar penuh rahasia, membiarkan orang menjenguk ke dalam untuk mereka apa yang kelihatan dalam sejenak...”
            Car Sanburg memuat beberapa buah sajaknya dalam majalah “POETRY” pada tahun 1914. Salah satu sajaknya berjudul “Chicago” ia mendapat hadiah Levinson dalam tahun itu juga sebesar 200 dollar. Nyatalah bahwa rahasia puisi tidak mungkin dapat kita dekati dengan kemauan setengah-setengah. Dibutuhkan kemauan yang bulat, karena hanya dengan kemauan hati yang penuhlah seseorang berhasil mendekati untuk kemudian terseret ke dalam pusaran penuh rahasia tersebut, menyatu dengan keserba-rahasiaan puisi, akhirnya mengungkapkan kerahasiaan itu lewat gubahan puisi itu sendiri.


6
SEBUAH SAJAK
ADALAH SEBUAH LUKISAN
TAPI KATA BUKANLAH CAT

            Kata Chairil Anwar: Sebuah sajak adalh sebuah lukisan. Artinya sajak tidak mungkin diuraikan atau dijelaskan apa maksud artinya. Sesungguhnya bagi seorang pelukis cat adalah suatu “dunia” yang sudah jadi taklukkannya. Tapi berbeda denga seorang penyair dalam menghadapi kata-kata. Kata dalm puisi bukan seperti seekor kuda jinak yang gampang dikendalikan. Kata dalam puisi lebih cenderungbertingkah penaka seekor kijang dalam rimba, masih liar. Dan penyair dari waktu ke waktu perlu berikhtiar melasonya atau menembaknya tepat di arah keningnya.
            Contoh sajak Krishna Mustajab yang berjudul “Tentang Sajak” yang terkumpul dalam buku puisinya “Sajak Adalah Sukma Sejati” – terbitan Dewan Kesenian Surabaya 1975:

Sajak itu huruf yang
berkata
sajak itu
rokh
sajak itu
pil
obat
bagi
jiwa
yang ker
dil

            Krishna terkenal sebagai pelukis dan siakp yang sama rupanya melingkupi dirinya selaku seorang penyair – sikap telah menaklukkan kata. Suatu sikap yang akhirnya mengakibatkan sajak yang dituliskannya itu terasa kaku, tergenang. Dan lagi dalam keinginannya menyatakan sesuatu, bahwa orang membaca saja pada hakekatnya tidak bertolak dari keinginan tahu (seperti dalam menghadapi prosa), tapi sesungguhnya adalah lantaran damba ditayang oleh sajak yang dihadapinya. – kesan dan kenangan masa lalu, kesan masa kini atau cita masa depannya terwakili sedikit banyak dalam sajak tersebut.
            Sebuah sajak adalah sebuah lukisan. Misal saja terlukis keindahan bulan purnama. Manakala kita tergelincir memperbincangkan pula betapa para astronout menginjakkan kaki di permukaan bulan serta bagaimana pengaruh sinar bulan terhadap kehidupan manusia, maka sebenarnya gong sudah berbunyi – persoalan sudah tidak lagi soal lukisan selaku suatu karya seni. Sebab seni lukis atau sajak sudah kehilangan fungsinya pada saat penguraian dikenakan terhadapnya.


7
SIMBOLISME

            Dalam puisi sang penyair condong memperlakukan kata menurut sifatnya yang konotatif – memiliki arti sampingan yang kadang sulit untuk ditebak lantaran merupakan duplikat dari pribadi sang penyair, dalam arti pengalamannya pada suatu saat tertentu.
            Dalam dunia prosa sebaliknya – pengarang cenderung meraih kata pada sifatnya yang denotatif, yang tersurat atau arti sebagaimana keterangan dalam kamus. Dengan kata lain, di mata pembaca kata-kata menjadi liar di tangan penyair, keliaran mana berubah menjadi jinak setelah berada di tangan pengarang.
            Seorang penyair membutuhkan suatu alat untuk melapangkan jalan alias landasan  untuk meluncurkan pikiran maupun perasaannya secara ringkas bernas. Alat itu bernama SIMBOL atau PERLAMBANG. Warna merah dan putih pada bendera Indonesia adalah simbolik. Warna hijau dalam judul sajak Sitor “ Surat Kertas Hijau” adalah simbolik.
            Simbolisme sebagai suatu aliran dalam kesusastraan, dimulai oleh beberapa penyair Perancis – Mallarme, Rimbaud, Verlaine dan Baudelaire. 
            Bermula dari teori Poe mereka mengatakan bahwa teknik menulis puisi sebenarnya sama dengan matematika. Setiap kata di dalam suatu sajak harus serentak memuat dalam dirinya: imaji, feeling, pemikiran dan perlambangan. Kaum simbolis sangat mengutamakan asosiasi-asosiasi yang dapat dicapai dengan pengindraan kita dalam memilih imaji, ditambah dengan pengaruh Freud dan Jung mengenai dunia sadar. Imaji adalah sesuatu yang kita peroleh dari dunia luar diri kita dan kita lambangkan dengan kata-kata. Tapi kata-kata mesti dipilih yang sugestif dan memikat juga bermakna hingga sanggup juga menyiratkan baik feeling, pemikiran ataupun abstraksi kita.


8
APAKAH MANTERA ITU
TERMASUK CIPTASASTRA?

            Keindahan yang memancar dari setiap ciptaseni, dapat kita sebut puisi. Pengertian puisi memiliki kaitan dengan kesusastraan. Kesusastraan adalah kreasi manusia, sebuah situasi di mana manusia berada dalam kancah pergulatan dengan bahasa. Manusia menciptakan kesenian dengan bahasa sebagai alatdan juga sebagai bahannya.
            Semua Kitab Suci adalah puisi, tapi tidak bisa kita masukkan kesusasatraan lantaran bukan hasil ciptaan manusia. Dia itu ciptaan Tuhan, nyanyian Tuhan yang direkam manusia yang kita sebut Nabi. Demikian pula dengan para dukun yang merekam suara makhluk halus yang hasil rekamannya dinamakan mantera. Sebuah mantera pada hakekatnya terdiri dari bunyi-bunyi yang membangun suatu irama tertentu – katakanlah itu bahasa dari makhluk halus. Yang tidak mengandung makna apa-apa bagi kita, karena kita tidak punya kepentingan dialog dengan mereka. Sehingga mantera dapat dikatakan tidak termasuk ciptasastra karena tidak komunikatif antar manusia.


9
ANYAMBEMEN

            Sajak-sajak experimental di tanah air belakangan ini adalah pemerkosaan sang penyajak ANYAMBEMEN.  Anyambemen adalah pemenggalan kata dalam baris (larik) untuk kemudian memindahkannya ke baris berikutnya. Barang tentu sam-sama tidak kita inginkan adanya patokan-mati untuk ini, tergantung intuisi kita masing-masing, pokoknya: ada kesadaran peningkatan diri dalam suatu kemahiran beranyambemen.


10
DI BELAKANG
KEINDAHAN
SEBUAH SAJAK

            Kata Leo Tolstoy, ada tiga pilar penopang keindahan sebuah karya seni, yaitu bentuk, isi dan kejujuran. Mengenai bentuk terdapat bentuk prosa dan puisi. Di bidang puisi penyair dengan bermodalkan bahasa dapat membentuk bentuk yang khas dalam puisi, apakah itu baris atau larik, bait lengkap dengan penerapan metafora, simbolisme dan sebagainya.
            Isi sebuah sajak jauh berbeda maknanya dengan isi sebuah cerpen, novel atau drama. Isi sebuah sajak dilingkup misteri. Maksudnya adalah sesuatu hal yang tidak dapat diurai, apa yang terkandung dalam sajak yang diciptakannya. Seperti musik, lukisan, tarian – pun tak dapat diurai secara tuntas.
            Kejujuran di pihak penyair sudah barang tentu merupakan jaminan. Pembaca yang sudah gandrung pada puisi, mereka akan berusaha terlebih dahulu untuk mendapatkan sajak-sajak buah tangan penyair tertentu yang telah memberi jaminan atas kejujurannya menciptakan puisi.


11
PUISI TRANSPARAN DAN PRISMATIS

            Persajakan terbagi dalam dua golongan. Golongan puisi transparan (sering disebut diaphan) dan golongan puisi prismatis. Transparan berarti jernih, bening. Puisi transparan, akan mudah diluluhkan oleh para pembaca atau berakrab dengan isi dari sajak yang tengah dihadapi. Sementara puisi prismatis adalah sebaliknya. Sesuatu yang ada di belakang  sebuah prisma teramat sukar tertangkap oleh mata.


12
PROSES LAHIRNYA SEBUAH SAJAK

            Proses pendulangan proses pengesahan. Tangkap atau rekamlah keseluruhan isi sajak terlebih dahulu. Jangan libatkan diri dengan proses pengesahan sementara isi sajk belum tercurah tuntas di atas kertas. Dan pada saat tiada lagi yang mesti ditulis barulah proses pengesahan dilakukan.  Mengganti kata-kata dengan yang lebih tepat misalnya, megatur bait, irama dan sebagainya yang menyangkut aspek bentuk, pada tahap inilah dikerjakan.  
13
SUTARDJI CALZOUM BACHRI, BIR DAN KREATIVITAS

            Sebuah kredo, di mana Sutardji mencanangkan perpisahannya dengan makna kata untuk kemudian “mengawini” mana kata, yaitu nilai magis yang dia coba gali dari anasir bunyi suatu rangkaian kata. Daya pukau yang dihasilkan rangkaian kata tertentu, itulah yang disebut orang mantera. Mantera sebagai salah satu unsur yang terdapat dalam efek-efek penulisan sastera, saya terima. Tapi kemutlakannya yang mau tak mau mesti mengkafirkan makna kata dalam sebuah sajak – inilah yang saya tolak mentah-mentah atau apriori.
            Mengenai bir sesungguhnya Sutardji bkanlah orang yang tergolong MC (over juga tidak) yang butuh bir atau minuman keras lainnya demi ketenangan diri menghadapi khalayak ramai. Orangnya malah sederhana dan memiliki percaya diri yang kuat berkat intelektualisme maupun dedikasi/integritas dirinya dalam kesenian umumnya dan perpuisian pada khususnya.
            Dalam kehidupan persajakan modern Indonesia sepanjang sejarahnya mulai dari Pujangga Baru sampai dengan generasi angkatan “66, boleh dikatakan belum ada bangun sajak seperti sajk-sajak Sutardji. Dalam hal pemilihan kata-kata tampaknya sajak-sajak tidak banyak memperlihatkan perubahan-perubahan. Kata-kata yang digunakan tidak jauh berbeda dengan kata-kata yang dipakai oleh penyair lain. Ini tentu memiliki tujuan khusus sebagai penyair yang ingin  membebaskan kata dari maknanya, sehingga hasilnya adalah sebuah sajak yang dekat dengan asal-usulnya, yaitu mantera. Sutardji bukanlah pencipta dalam arti semurni-murninya, tetapi berhasil menggunakan unsur-unsur pokok kekuatan mantera untuk ciptakan sajak-sajak modern. Dengan kata lain, Sutardji adalah seorang penggali yang berhasil mengolah esensi puisi yang paling awal dalam lingkungan situasi modern. 



BAGIAN DUA
PROSA


1
DAYA PIKAT
SEBUAH CERITA PENDEK

            Pembaca terbagi menjadi dua. Ada yang hanya ingin tahu isi cerita – dan tidak ambil pusing terhadap “style” atau gaya sang pengarang. Ceritanya ini bersifat “commercialstory” di majalah atau koran hiburan untuk golongan pembaca awam. Dan ada pembaca yang hanya berminat membaca ceritra yang termasuk jenis “quality story” di mana sang pengarang mempertaruhkan namanya dalam arti berusaha meningkatkan prestasi karirnya selaku sastrawan dalam setiap hasil karyanya.
Dalam kesusastraan yang menjadi daya pikat pertama adalah nam pengarang. Tahap pertama yang dia usahakan mati-matian adalah popularitas namanya sebagai pengarang yang tentunya sonder mengabaikan mutu dari setiap karyanya.
            Menghadapi sebuah cerpen, daya pikat yang pertama terletak pada halaman awal terutama tergantung pada kepandaian pengarang membuka ceritra. Cerpen dan Novel pada hakekatnya adalah seni berceritra. Itulah sebabnya mengapa hampir semua pengarang senior menganjurkan agar para calon pengarang cerpen banyak-banyak membaca cerpen karya pengarang yang sudah masyhur..
            Dengan membaca, perbendaharaan seseorang bertambah kaya dengan pengenalan aneka ragam style para pengarang dan hal ini nantinya bakal memupuk intuisi kita yang teramat diperlukan dalam proses penulisan. Intuisi sesungguhnya pegang peranan penting dalam proses kreatif.


2
ALINEA AWAL DAN AKHIR
SEBUAH CERPEN

            Guy de Maupassant dan Anton Chekov adalah pengarang kaliber dunia yag dalam sejarah sastra merupakan “bapak” dari Ceritra Pendek yang kemudian oleh Ajip Rosidi tempohari disingkat menjadi Cerpen dan akhirnya akronim tersebut populer dipakai sampai hari ini.
Membaca sebuah cerpen dengan perhatian condong pada isi ceritra semata adalah suatu kekeliruan yang tak dapat dimaafkan dalam sastra.
            Alinea pertama sebuah cerpen itu, sebenarnya adalah merupakan pilihan terakhir sang pengarang setelah dia berulang kali menurunkan kertas naskah yang gagal dari mesin tulisnya. Seorang pengarang mesti lihai di mana dia harus mengakhiri ceritanya dan dengan cara bagaimana dia harus mengungkapkan alinea akhir. Seorang pengarang yang baik akan selalu menyadari bahwa pembaca tidak suka digurui, biarkanlah mereka sendiri yang mengambil kesimpulan atas cerita yang dibacanya.

3
UNSUR CERITRA
DALAM
CERITRA PENDEK

            Orang awam sering keliru menyangka apa yang dibacanya adalah cerpen padahal sebenarnya masih merupakan sebuah Kisah atau Sketsa semata. Sebuah cerpen atau Short-story dalam bahasa Inggris pada dasarnya menuntut, jelasnya mengadakan tuntutan berupa kemestian adanya perwatakan jelas pada tokoh ceritra. Sang tokoh merupakan sentral-ide dari ceritra. Ceritra bermula dari sang tokoh dan nantinya berakhir pada “nasib” apa yang menimpa sang tokoh itu pula. Unsur perwatakan ebih dominan daripada unsur ceritra itu sendiri. Membaca sebuah cerpen berarti kita mencoba berusaha memahami manusia bukan sekedar ingin mengetahui jalan ceritranya. Beda dengan sebuah novel di mana kedudukan perwatakan dan jalan ceritara berada dalam suatu keseimbangan dalam arti ibarat uang kertas atau logam yang bagian depan serta belakang sama pentingnya. Timbal-balik. Penonjolan segi perwatakan biasanya dilakukan pengarang lewat dialog-dialog yang wajar dan pemberian nama yang lengkap pada pelaku ceritra.


4
HUMOR DAN PERBANDINGAN
DALAM SEBUAH CERPEN

            Sebuah Cerita Pendek (Cerpen) sebagai karya seni, yaitu seni sastra atau kesusasatraan tidak bisa dipisahkan antara isi dan bentuknya. Isi yang menarik serta punya bobot mau tak mau mesti diimbangi pula dengan bentuk yang memuaskan – gaya bahasa dan gaya berceritra sang pengarang. Mengenai stilistika sebagai ilmu pengetahuan belum menjamin dirinya untuk menjadi seorang pengarang karena stilistika hanya menyorot segi bentuk sebuah karangan. Sedangkan ciptasastra adalah terdiri dari bentuk dan isi.
            Perbandingan, di samping fungsinya menghidupkan suasana ceritra dan memberi warna pada nuansa-nuansa tertentu yang ingin ditonjolkan pengarang, juga sering dimanfaatkan oleh pengarang dalam usahanya menampilkan efek berhumornya. Dapat kita rasakan pada cerpen-cerpen Pramudya tempohari atau Mochtar Lubis. Bagi mereka yang ingin mempelajari pemakaian perbandingan rasanya cukup apabila membaca buku novel Achdiat K. Mihardja, ATHEIS.

5
SOROTBALIK
(FLASH-BACK)

            Dalam penulisan Cerpen, bagi mereka yang baru mulai berlatih memang sangat dirasakan kesulitan sewaktu menerapkan teknik sorotbalik atau flash back. Melukiskan sepasang muda-mudi yang sedang memadu kasih di sebuah tempat tamsya misalnya, pengarang ingin menggambarkan isi kenangan yang melingkupi si tokoh lelaki, di mana tempohari di tempat yang sama dia pernah bersanding dengan cewek lain yang akhirnya tercaplok orang lain yang lebih gesit.
            Pengarang menghadapi dua pilihan. Apakah akan melukiskan kenangan sang tokoh secara langsung ataukah denga tidak langsung. Jelasnya, kalau secara langsung maka pengarang mesti melukiskan peristiwa tempohari tersebut secara tiga dimensi – para pelaku diberi kesempatan, berdialog sesuai dengan daya ingatan tokoh yang terkenang tadi.
            Pilihan yang kedua adalah pelukisan secara tidak langsung. Cara ini mengandung risiko yang sangat besar, yaitu pembaca jadi bosan lantaran ceritra akhirnya tidak terasa hidup – kering dalam dua dimensi.
            Kadangkala sorotbalik diterapkan pengarang terkenal dengan cara sedemikian uniknya, seolah pengarang mau menjebak pembaca – dengan cara halus pengarang mempersilakan pembaca untuk ikut kreatif dan kritis. Tehnik semacam ini kita jumpai dalam karya Putu Wijaya, novel TELEGRAM.
            Yang perlu diperhatikan dalam menerapkan sorotbalik dalam sebuah cerpen ialah menjaga keseimbangan, jangan sampai suatu sorotbalik demikian berkepanjangan dalam arti bertele-tele terlepas dari efek penulisan sorotbalik itu sendiri yaitu menghadirkan nuansa-nuansa peristiwa atau perwatakan para pelaku ceritra.


6
PERWATAKAN
PELAKU CERITRA

            Tidak semua ceritra yang pendek adalah cerpen. Dan yang menjadi ciri khas sebuah cerpen adalah adanya perwatakan pelaku ceritra. Tidak seperti dalam penulisan novel atau lakon drama – menyebabkan segi perwatakan tidak mungkin digarap sempurna. Tapi ini tidaklah berarti bahwa pengarang boleh melalaikannya dalam penulisan sebuah cerpen.
            Khusus mengenai perwatakan pelaku ceritra Anthony Trollope dalam otobiografinya, bahwa: pertama pengarang harus mempunyai ceritra untuk diceritakan. Salah satu hal yang harus diperhatikan pula ialah bahwa orang-orang dalam cerita itu harus bicara dengan bahasa yang cocok baginya. Yang memikat orang dalam menikmati sebuah cerpen bukan semata oleh isi cerita yang menarik hati, karena menarik hati merupakan unsur yang dominan, tetapi yang pokok ialah menemukan watak-watak orang yang telah digarisbawahi oleh pengarang.


7
PLOT

            Baik cerpen maupun novel dapat digolongkan dalam beberapa jenis, seperti: cerita ide, cerita psikologi dan cerita PLOT. Dr. Boen S. Oemarjati mengutip pendapat Renek Wellek yang mengatakan bahwa p l o t adalah struktur perceritaan. Sedangkan Hudson mengatakan bahwa p l o t adalah rangkaian kejadian dan perbuatan, rangkaian hal-hal yang diderita dan dikerjakan oleh pelaku-pelaku sepanjang roman/novel yang bersangkutan. Kesimpulannya bahwa p l o t adalah struktur penyusunan kejadian-kejadian dalam cerita tapi yang disusun secara logis.
            Dalam bahasa Indonesia kata plot adalah alur. Berkat adanya alur yang tergali oleh intuisi pengarang menyebabkan “isi cerita” lantas mengalir secara teratur, segala peristiwa merentet secara runtut, tidak kacau balau.


8
RENUNGAN-RENUNGAN
DALAM
KARYA SASTRA

            PENGARANG itu ada dua. Tukang cerita dan Sastrawan. Yang ditulisnya adalah commercial-story. Pada umumnya mereka tidak sempat menghiasi karangannya, dengan renungan kehidupan. Renungan atas kehidupan merupakan suatu ciri khas yang senantiasa terdapat dalam karya sastra. Inilah sebabnya mengapa cerita-serita detektif sepanjang sejarah tidak diklasifikasikan hasil kesuasastraan. Lantaran pengarang tidak sempat menggeluti renungan kehidupan tersebut. Yang diutamakan adalah banyak peristiwa yang terjadi dan merahasiakan biang keladi dari suatu kasus kejahatan barulah pengarang membongkarnya pada akhir cerita.


9
FUNGSI CATATAN HARIAN
DALAM
KARANG-MENGARANG

            Dalam dunia karang-mengarang diperlukan latihan semacam seorang pelukis, hanya saj tidak bergelimang dengan cat tapi dengan kata-kata: latihan menyusun kalimat dan latihan menerapkan pelbagai gaya pengungkapan. Dan catatan harian adalah wadah yang dipakai oleh para pengarang untuk ini. Bahan tulisan bisa saja, segala kesan dan kenangan siang tadinya, masa lalu seperti masa kanaknya adalah senantiasa menarik untuk direkam dalam bahasa. Penyair mengisi buku catatan hariannya dengan coba menyusun jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ang mungkin sekali tempo diajukan orang pada dirinya selaku penyair. Dengan banyak membaca kita lantas mengetahui apa-apa yang pernah dikatakan orang dan dengan mengisi catatan harian berarti kita berusaha menyimpulkan pendapat mereka tersebut sesuai dengan keyakinan dalam diri kita sendiri dan sesungguhnya pada dasarnya orang ingin mengetahui pendapat diri kita pribadi.


10
KRITIK DAN ESAI

            Ada dua bidang penulisan, yaitu dalam bentuk K r i t i k dan E s a i.  Esai dapat diklasifikasikan menjadi dua: yang obyektif dan yang subyektif. Yang pertama sering diberi predikat “Sebuah Studi” dan satunya lagi “Sebuah Esai Kecil”. Sebua tulisan barulah dapat disebut esai apabila karangan itu ditulis tidak secaraacak-acakan, gaya bahsa dan cara pengungkapannya memikat hati. Materi sebuah esai tidaklah persoalan sastra melulu. Seni lainnya atau politik, sejarah, religi, filsafat dan sebagainya, bahkan masalah esai itu sendiri bisa digarap, sebagaimana pernah dilakukan oleh Arief Budiman dalam majalah Horison tempohari: “Esai Tentang Esai”.
            Tentang kritik dianggap sebagai bidang yang sangat angker. Raksasa yag menguasai dunia penuh keangkeran buat para seniman ini bernama  k r i t i k u s. Di bidang esai raksasa hanya bermaksud pamer kesaktian, tapi di bidang kritik mereka mulai gentayangan mencari mangsa – dengan rakus diganyangnya kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam sesuatu karya seni.

11
CERITA PICISAN,
POPULER DAN SASTRA

            Berdasarkan sifat yang terpancar daripadanya yang merupakan akibat dari sikap pengarangnya dalam merampungkannya maka dapt dibagi menjadi tiga kategori: yang picisan, yang populer dan yang sastra. Cerita picisan pun populer, di kalangan orang awam. Pengarang tak perlu capek-capek, tampilkan pelaku laki dan perempuan kemudian praktekkan ketrampilan berbohong (Hamka pernah bilang dengan nada guyon: semakin pintar seseorang menyusun kebohongan makin mashurlah dia selaku pengarang) yaitu menyusun jalinan cerita dengan pengarahan pada kasak-kusuk di tempat tidur.
            Cerita populer (popular-fiction), pada umumnya kalangan pembacanya menaruh perhatian yang cukup serius pada nama pengarang  cerita yang dibacanya. Jadi jauh beda dengan kalangan pembaca cerita picisan – yang acuh tak acuh, untuk tidak mengatakan tidak ambil pusing sama sekali. Cerita populer, khususnya yang berbentuk novel biasanya dapat kita tandai dari sikap pengarang dalam mengungkap kehidupan. Pengarang cenderung pada isi daripada bentuk yang mencakup gaya bahasa dan gaya bercerita.
            Cerita yang bernilai sastra, tidak selamanya diberati oleh filsafat, psikologi. Sastra tidak akan pernah melampaui cerita-populer. Terpencilnya sastra dalam masyarakat tanah air selama ini, itu bukan salah sastrawan atau masyarakat-sastra tetapi adalah kesalahan dari para penerbit buku yang telah mengabaikan fungsi iklan buku.


12
SASTRA DAN JURNALISTIK

            Sastra dan jurnalistik adalah dua bidang penulisan yang berbeda, yang masing-masing bidang tersebut membutuhkan kemampuan tersendiri dari seseorang yang akan berkecimpung di dalamnya. Yang merupakan perbedaan yang teramat menyolok, merupakan suatu fakta yang diakui oleh semua orang termasuk para ahli di kedua bidang tersebut, yaitu bahwa sastra tidak mungkin dapt dipelajari oleh semua orang dalam rangka memperoleh gelar sastrawan..
            Sebaliknya gelar wartawan adalah memungkinkan untuk digapai setiap orang lewat suatu pendidikan yang khusus. Jurnalistik sebagai sebuah ilmu mengundang siapa saja yang ingin mendapat gelar Sarjana Publisistik.
            Kalau seorang pelukis mencipta keindahan dengan cat, seorang penari dengan gerak, musikus dengan bunyi maka seorang sastrawan mencipta keindahan dengan bahasa. Itulah sebabnya kesusastraan disebut juga seni bahasa atau seni sastra. Bahasa adalah hanya alat untuk komunikasi dengan pembaca/pendengar. Para wartawan mau tidak mau mesti berpacu dengan waktu. Masing-masing ingin menyaingi yang lain dalam mengejar suatu berita. Semboyan “time is money” terus terngiang di telinga wartawan, setiap saat kemana pun ia pergi.
            Dalam hubungan saling ambil dan memberi antara sastra dan jurnalistik inilah mengapa dewasa ini berkembangkang dengan pesat suatu cara penulisan dalam dunia jurnalistik – pengaruh sastra dalam jurnalistik – yang di Indonesia dipelopori oleh majalah berita TEMPO.


13
NOVEL
DAN
ROMAN

            Istilah ROMAN sebagi suatu bentuk prosa sepanjang pengetahuan saya hanya terdapat di Indonesia. Mulanya sejak zaman penjajahan Belanda istilah tersebut dipakai orang sebagai terjemahan bahasa Indonesia untuk istilah asing NOVEL. Konon pada sebuah Roman terdapat lebih banyak pelaku cerita tinimbang sebuah novel. Sebuah roman memungkinkan pengarang untuk memasukkan pelaku cerita sebanyak mungkin.  Dan masing-masing boleh menempuh jalan cerita sendiri-sendiri pokoknya nanti pada akhir cerita mereka mesti ketemu satu tempat tujuan.Berbeda dengan roman, sebuah novel paling banyak mengandung dua-tiga orang pelaku penting termasuk seorang yang menjadi pelaku utama.
            Perbedaan antara NOVELETTE dengan LONG SHORT-STORY. Novelette adalah novel pendek. Dan tidak jarang sebuah buku novelette lebih tipis daripada Long Short-Story (cerpen panjang). Sebuah cerpen panjang kita tandai dari keterbatasan scope atau tinjauan pengarang terhadap problem kehidupan pelaku cerita.
            Dengan demikian sebuah novelette adalah ibarat singkatan dari sebuah novel. Beda dengan sebuah cerpen panjang – sebuah cerita yang berdiri sendiri, meski panjang tapi tidak pernah teramat jauh meninggalkan radius keterpencilannya selaku sebuah cerpen.


14
PROSES RAMPUNGNYA
SEBUAH CERPEN

            Faktor suasana hati (mood) pegang peranan penting dalam proses penciptaan karya sastra. Ada segi baik ada segi buruknya mengandalkan suasana hati ini.
            Segi baiknya, yang dapat kita catat: menjauhkan kita dari kerja terburu-buru. Setiap persoalan dalam kehidupan memperoleh sorotan cukup mendalam dan mesra. Semuanya mesti berada dalam rangkaian yang harmonis pada struktur cerita. Dibutuhkan kesabaran luar biasa di samping konsentrasi yang penuh serta daya membayangkan (image) dan daya mengingat yang kuat.
            Segi buruknya, proses kreatif mengandalkan suasana hati ini, ialah sering terbengkalainya serpen yang sedang kita tulis. Baru pertengahan atau duapertiga selesai, apabila tiba-tiba datang gangguan yang merusakkan suasana hati tadi, maka jangan harap cerpen dapat dirampungkan dengan tuntas. Syukur kalau hanya tertunda, tapi brengseknya seringkali saya sia-sia untuk dapat menyelesaikannya. Buyar semua.



























  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar