RESUME BUKU
TEORI SASTRA KONTEMPORER
& 13 TOKOHNYA
KARYA MOHAMMAD A.
SYUROPATI
FORMALISME RUSIA
Antara tahun
1910-1915, di italia dan rusia muncul gerakan avant garde, (gerakan
futurism). Yang merupakan cikal bakal formalisme Rusia. Istilah formalism
berasal dari bahasa latin yaitu forma
yang artinya bentuk atau wujud. Merupakan pendekatan dalam ilmu dan kritik
sastra yang mengesampingkan data-data biografis, psikologis, idiologi, sosiologis.
yang pada gilirannya menjadi titik awal munculnya ilmu sastra modern. Gerakan
futurisme juga menjadi pelopor teori-teori strukturalisme. Karena formalisme
rusia tidak dapat dipisahkan dari gerakan futurisme dan
strukturalisme. Pada tahun 1915, pragmatisme mendapat reaksi keras dari
formalisme yang berpusat di moscow dan petograd. Dan tokoh tokohnya antara lain
Boris Eichenboum, Victor Sckkhlovsky, dan Roman Jaksbon
Formalism juga muncul
sebagai reaksi terhadap positivism. Adapun tokoh-tokoh formalism diantaranya;
Roman Jakobson, sjklovsky, eichenbeum, tynjanov, mukarovsky Mikhail bakhtin,
boris dan lain-lain. Namun pada tahun 1930-an formalisme dilarang pemerintah
rusia yang beraliran politik komunis. Kaum formalis memperlakukan kesusastraan
sebagai suatu pemakaian bahasa yang khas, yang mencapai perwujudannya lewat
deviasi dan distorasi dari bahasa praktis yang digunakan untuk proses
berkomunikasi.
1. Roman Jakobson
Dia lahir di Moskow pada tahun 1896
merupakan tokoh formalisme Rusia, dan meninggal pada tahun 1982. Dan pada tahun
1914 dia memasuki fakultas Historiko-Filologis di Universitas Moskow dan masuk
bagian bahasa jurusan Slavia dan Rusia. Pada tahun 1915 dia mendirikan
lingkungan linguistik di moskow dan terpengaruh oleh pemikiran husserl. Mula-mula
yang menjadi objek kajian jakobson adalah puisi dengan adanya fungsi puitik.
Namun selanjutnya dikembangkannya sehingga ia menjadi teoritikus pertama yang
menjelaskan adanya proses komunikasi dalam teks sastra. Karya sastra merupakan
modul komunikasi yang meliputi relasi antara pengarang, teks dan pembaca, teks
dan pengarang.
Dalam artikelnya yang terkenal linguistics and poetics jakobson
menerangkan bahwa ada enam fungsi bahasa yang berbeda, yang merupakan factor
pembentuk dalam setiap komunikasi verbal, yaitu pengirim (addresser) pesan
(massage) yang dikirimi (addresse) konteks (context) code (code) dan kontak
(contact).
Pada sisi lain jakobson menekankan
pentingnya ilmu sastra (nauka o literature) sebagai cabang ilmu tersendiri. Dia
juga memproklamirkan kesusastraan (literaturnos) sebagai objek ilmu sastra.
Selanjutnya ia memandang bahwa karya sastra dinilai sebagai system yang
dinamik, unsure di dalamnya disusun atas latar belakang dan latar depannya,
jika salah satu unsure dihapuskan, maka unsure lainnya memerankan peran yang
dominan. Dalam artian sebagai komponen sebuah karya seni yang memusat. Dalam
bahasa puitik mempunyai dua perangkat masalah yaitu sinkronik dan diakronik.
2. Mikhail Bakhtin
Beliau lahir pada bulan November 1895 dan
meninggal bulan Maret 1975. Tahun 1918 bakhtin belajar sastra klasik dan
filologi di universitas Petrograd. Karya-karya Bakhtin terbagi kedalam tiga
periode, yaitu: 1) esai-esai awal tentang etika dan estetika; 2) buku dan
artikel tentang sejarah novel; dan 3) esai-esai yang diterbitkan setelah ia
meninggal, yang isinya menulang tema-tema ulasan diperiode kedua. Dia
mencetuskan sebuah teori yang disebut chronotope
yang didefinisikan sebagai keterkaitan intrinsik hubungan-hubungan ruang dan
waktu yang ada didalam sastra. Dia merupakan salah satu dari teoritisi sastra
terbaik diabad kedua puluh. “Karnavalisasi” adalah istilah yang dipergunakan
Bakhtin untuk menerangkan bentuk efek karnaval pada jenis-jenis sastra. Dia
berpandangan bahwa bentuk karnaval yang relatif bergairah itu bisa bertahan
hidup dalam karya-karya tulis, bisa juga terjadi adanya pencarian kualitas
kolektif pada penyelidikan tersebut, yang didalamnya ada beberapa sudut pandang
yang saling bertabrakan tanpa suatu hirarki ragam yang dikukuhkan oleh
pengarangnya.
Adapun aspek terpenting dari karnaval adalah
canda-tawa, namun tidak dapat disamakan didalam bentuk khususnya dengan yang
ada didalam kesadaran modern, karena canda-tawa tersebut tidak hanya bersifat
parodi, ironis, atau setiris, tapi ia juga bersifat ambivalen dan tidak
memiliki objek” kata Bakhtin. Dalam telaahnya tentang novel, Bakhtin berpendapat
bahwa diskursus bergaya novelis tidak boleh difahamai sebagai bahasa komunikasi
dengan telaah linguistik, tetapi merupakan suatu lingkungan dinamis tempat
berlangsungnya pertukaran (dialog).
Dalam periode
formalism akhir, apa yang disebut dengan aliran bakhtin telah berhasil
menggabungkan formalism dengan marxisme, yang mana aliran itu tetap formalis
dalam menggabungkannya dengan struktur linguistic karya sastra.
MARXISME
Teori
ini berawal pada tahun 1840-an, seiring pernyataan-pernyataan Marx yang penting
tentang kebudayaan dan masyarakat. Menurut Marx, sastra dan semua gejala
kebudayaan lainya mencerminkan pola hubungan ekonomi, karena sastra terkait
dengan kelas-kelas yang ada didalam masyarakatnya.
Teori sastra Marxis memiliki
dasar filsafat normatif dengan ide-ide eksplisit tentang masalah-masalah
epistemologi. Tokoh-tokoh teori sastra marxis mulai dari aliran rea;isme
sosialis soviet, aliran frankurt, neo-marxisme, marxisme strukturalis sampai
p[erkembangan mutakhir.
1. George Lukacs
George
lucaks lahir di hungaria (1885-1971) dan menjalani pendidikan di jerman. Dasar
dari pemikiran beliau mengikuti Aristoteles, Kant, dan Hegel. Seni realisme
menurutnya adalah karya seni yang harus melawan alienasi dan keterpecahan yang
ada pada masyarakat kapitalis, sehingga ia membentuk suatu gambaran masnusia
secara menyeluruh dan sempurna. Sebagai seorang realis sosialis ia bersandar
pada sisi pandangan hegel dan marxisme dengan memperlakukan karya sastra
sebagai cerminan kehidupan nyata. Karya realis menurutnya adalah karya yang
menyajikan serangkaian hubungan antara manusia, alam, dan sejarah yang kompleks
dan komperehensif. Pandanganya adalah pandangan Marxis yang menekankan pada
hakikat material dan sejarah struktur masyarakat. Menurutnya seorang seniman
yang besar adalah mereka yang dapat menangkap dan menciptakan kembali totalitas
harmonis kehidupan manusia.
Ia berpendapat bahwa sastra populer secar deametris
bertentangan dengan sastra avant garde. Sebelum
lucaks menjadi seorang marxis, seperti halnya hegel ia memandang novel sebagai
karya “epic Borjuis” sebuah epic yang berbeda dengan epic klasik.
2. Bertold Brecht
Dia yang hidup di antara tahun 1898-1956,
seorang pengarang sandiwara yang bersifat kritis mengenai bidang sosial dan
politik. Secara implisit dan eksplisit, karya-karya tulisnya mencerminkan
pendapatnya bahwa setiap karya teater dimaksudkan untuk entertaiment,
menghibur, dan sekaligus sebagai pangingsut sedekat-dekatnya pada segala media
pendidikan dan komunikasi massa. Menurutnya peranan sosial serta pendidikan
merupakan suatu unsur mutlak dalam karya seni. Drama-drama awalnya radikal,
anarkistik, dan anti borjuis, tetapi tidak anti kapitalis. Menurut Brecht,
pemain harus mampu menimbulkan efek alienasi, karena pemain bukan berfungsi
untukmenunjukan melainkan mengungkapkan secara spontan individualitasnya.
Situasi, emosi dan dilema
pelaku teater harus dapat dimengerti dari luar dan dihadirkan sebagai yang aneh
dan problematik, tanpa mengindari penggunaan perasaan. Brecht mengatakan bahwa
fungsi teater adalah sebagai media hiburan imajinatif bagi orang-orang yang
terjerat dalam asumsi bahwa dunia adalah satuan yang tetap, terberi, dan tidak
dapat diubah. Satu hal yang menarik dari pemikiran Brecht adalah aforismenya,
“sesuatu itu penting tatkala sesuatu itu menjadi sesuatu yang penting”.
3. Walter Benjamin
Banjamin adalah sahabat karib dan
pendukung brecht. Beliau lahir di Berlin tahun 1892. Ia adalah seorang sahabat
karib sekaligus pendukung Brecht yang mana ia juga berpendapat bahwa seni
adalah sebuah praktik sosial, bukan semata-mata objek yang dapat dibedah secara
akademik, sedangkan kesusastraan adalah sebuah aktivitas sosial, suatu bentuk
produksi sosial dan ekonomi yang hadir bersama dan berhubungan dengan
bentuk-bentuk lain yang sejenis.
Menurutnya
seniman revolusioner tidak menerima begitu saja kekuatan-kekuatan produksi
artistik yang ada, tetapi dia juga harus mengembangkan dan lebih
merevolusionerkan kekuatan-kekuatan tersebut supaya dapat menciptakan hubungan
sosial yang baru antara seniman dan penikmat umum. Dalam esainya yang berjudul
“The Work of Art The Age of Mechanical Reproduction”, terdapat dua unsur
menonjol dalam karya seni. Pertama, bila suatu karya seni itu dapat
direproduksi, maka ia akan bisa memperoleh makna baru dari bermacam-macam
konteks. Kedua, karakterisasi yang dilakukannya pada film.
4. Theodor Adorno
Beliau
adalah tokoh neo-marxis, lahir pada tahun 1903, Adorno berpendapat bahwa seni
memang terpisah dari realitas, atau seni tidak dapat secara sederhana
mencerminkan sistem kemasyarakatan, tetapi ia berada diantara realitas tersebut
sebagai pengganggu jenis pengetahuan yang tidak lansung, karena keterpisahannya
bisa memberikan makna dan kekuatan yang khusus kepadanya. Menurutnya seni adalah
pengetahuan negatif tentang dunia nyata. Seni tidak menyampaikan pengetahuan
tentang realitas, karena secara prespektif seni melukiskan realitas, dan karena
sifatnya yang otonom itulah seni dapat mengungkapkan hal-hal yang disembunyikan
oleh bentuk-bentuk pengetahuan empiris.
Adorno menilai
filsafat bukanlah puisi atau seni, karena bila filsafat dilihat sebagai seni
maka hakikat filsafat dihapuskan. Filsafat tidak boleh memberikan dorongan
estetik, proses yang dapat membawa puitisasi. Pemikiran Adorno tentang metode
dialektikanya, yaitu:
1.
Adorno
menganggap masyarakat sebagai suatu totalitas dalam pengertian yang sangat
dialektis.
2.
Metode
dialektis memusatkan hubungan antara yang umum dan yang invidual dalam
penempatan historisnya.
3.
Dialektika
Adorno memberikan identitas ganda pada subjek, yang dapat dibagi menjadi
keinginan yang lebih tinggi (kesadaran yang benar) dan keinginan yang lebih
rendah (kesadaran palsu).
4.
Adorno menolak
adanya pembedaan antara teori dan praktek, bahasa objek dan metabahasa, fakta
yang diamati dan nilai-nilai yang diberikan.
STRUKTURALISME
Strukturalisme
pada mulanya lahir di Prancis tahun 1960-an, diawali dengan hadirnya buku Course in General Linguistic (1916) oleh
Ferdinand de Saussure (bahasa). Strukturalisme juga muncul di Amerika seteah
munculnya aliran New Criticism (isi), dan di Jenewa dengan nama Struturalisme
Praha (sign/tanda). Teori Strukturaisme sastra merupakan teori untuk mendekati
teks-teks sastra yang menekankan keseluruhan relasi antara berbagai unsur teks.
Asumsi dasar strukturalisme adalah teks sastra merupakan keseluruhan, kesatuan
yang bulat dan mempunyai koherensi bathiniyah. Strukturalisme menentang teori
mimetik, ekspresif, dan menentang teori-teori yang menganggap sastra sebagai
penghubung antar pengarang dan pembacanya.
Kaum
strukturalis berpendapat tulisan tidak mempunyai asal, tiap ucapan individual
didahului oleh bahasa, dan tiap teks terbangun dari yang telah ditulis.
Perkembangan pertama dalam studi strukturalis yaitu fonem, elemen terendah
dalam sistem bahasa, karena fonem adalah bunyi yang bermakna yang dikenal atau
difahami oleh pemakai bahasa.
1. Ferdinand de Saussure
Seorang
Bapak Strukturalis dan Linguistik yang lahir di Jenewa tahun (1857-1913). Dalam
bukunya Course in General Linguistic
Saussure menggambarkan bahwa pemikiran-pemikiranya tidak lepas dari bahasa dan
tanda. Tanda-tanda disusun dari dua elemen, yaitu: 1) aspek citra tentang bunyi
(semacam kata atau representasi visual); dan 2) sebuah konsep dimana citra
bunyi disandarkan. Dasar pemikiran linguistik saussure yang bertolak dari
sederetan dekotomi (pasangan definisi yang beroposisi), yaitu tentang dekotomi
antara parole dan langue, dekotomi antara signifiant ( penanda) dan signifie
(petanda), dan dekotomi antara sintagma dan paradigma.
2. Claude Levi-Strauss
Seorang
ahli antropologi yang lahir di Kota Brussel tanggal 28 November 1908. Adapun
asumsi-asumsi dasar dalam pemikiran Levi-Strauss, diantaranya adalah: Pertama,
Strukturalisme Levi-Strauss beranggapan bahwa berbagai aktivitas sosial,
termasuk juga hasilnya, semuanya secara formal dapat dikatakan sebagai
bahasa-bahasa atau perangkat tanda dan simbol yang menyampaikan pesan-pesan
tertentu. Kedua, Dalam diri manusia terdapat kemampuan dasar yang
diwariskan secara genetis, yaitu kemampuan untuk structuring, menyusun suatu
struktur atau menempelkan suatu struktur tertentu pada gejala-gejala yang
dihadapinya. Ketiga, Makna suatu istilah itu ditentukan oleh
relasi-relasinya pada suatu titik waktu tertentu secara sinkronis. Keempat, Relasi-relasi
yang berada pada struktur dalam dapat disederhanakan lagi menjadi oposisi
berpasangan (binary opposition).
Selanjutnya,
ada dua aspek penting yang mendasari pendekatannya. Pertama, Prinsip
Levi-Strauss yang mengatakan bahwa kehidupan sosial dan kultural tidak dapat
dijelaskan secara unik oleh salah satu versi fungsionalisme. Kedua, yang
membentuk manusia itu adalah dimensi kultural (yang didominasi bahasa), bukan
alam atau yang dialami. Levi-Strauss berpendapat bahwa mitos adalah
representasi dari pemikiran yang membentuknya, bukan beberapa relitas
eksternal.
SEMIOTIKA
Tanda-tanda adalah seperangkat yang kita
pakai dalam rangka berusaha mencari jalan di dunia ini, di tengah-tengah
manusia dan bersama manusia. Yang terpenting adalah bagaimana kita dapat
menerjemahkan tanda-tanda yang ada di sekeliling kita, relasi-relasinya, dan
mencari makna-makna yang ada di balik itu semua.
Istilah “semiologi” merupakan
pengembangan dari peletakan dasar linguistik modernnya Ferdinand de Saussure
(1857-1913)yang berdasarkan pada penggunaan tanda sedangkan Charles Sander Peirce
(1839-1914) menyebutnya dengan istilah “semiotika”. Kedua pemikiran bapak
semiotika tersebut diperluas oleh pemikir-pemikir lainnya.
Semiotika (ilmu tanda, berasal dari kata
Yunani Semeion, yang berarti tanda) adalah nama cabang ilmu yang
berurusan dengan pengkajian tanda-tanda dan segala sesuatu yang berhubungan
dengan tanda, seperti sistem tanda dan proses yang berlaku bagi penggunaan
tanda. Semiotika ini merupakan bidang yang luas, dari zoo-semiotika, semiotika
para linguistik, semiotika komunikasi visual, semiotika komunikasi massa,
semiotika kode budaya dan masih banyak lagi.
Eco menyatakan bahwa semiotik merupakan
penerapan prinsip-prinsip segala disiplin ilmu yang dapat dimanfaatkan untuk
mengelabui. Jadi, tanda-tanda dapat menceritakan kebenaran maupun kebohongan.
Namun toh demikian, tidak semua tanda dapat dilihat. Suara dapat dianggap
sebagai tanda, begitu juga dengan bau, rasa dan bentuk.
Adapun yang tergolong tokoh-tokoh
Semiotika atau Semiologi adalah: Charles Sanders Peirce, Ferdinand de Saussure,
Roman Jakobson, Umberto Eco, Louis Hjemslev, Roland Barthes, Tzvetan Todorov,
Algirdas Julien Greimas, Michael Refaterre, Jurit Lotman, dan lain-lain.
1. Charles
S. Peirce
Bapak Semiotika
dan sekaligus seorang filsuf Amerika yang paling orisinil dan multidimensional
ini, lahir dalam sebuah keluarga intelektual pada tahun 1839. Dia adalah anak
dari seorang ayah yang menjadai profesor matematika di Harvard. Pada tahun
1859,1862, dan 1863, secara berturut-turut dia meraih gelar B.A., M.A., dan
B.Sc. dari Universitas Harvard.
Peirce telah
menciptakan teori umum untuk tanda-tanda dan telah memberikan dasar-dasar yang
kuat pada teori tersebut dengan istilah Semiotika. Kata Semiotika telah
digunakan ahli filsafat Jerman sebagai sinonim kata logika. Menurutnya, logika
harus mempelajari bagaimana orang bernalar, dan penalaran itu dilakukan melalui
tanda-tanda.
Singkatnya
Peirce mengatakan bahwa tanda terkait erat dengan logika, karena tanda adalah
sarana pikiran sebagai artikulasi bentuk-bentuk logika. Selain itu dia juga
menyebutkan bahwa tanda adalah segala sesuatu yang ada pada seseorang untuk
menytakan sesuatu yang lain dalam beberapa hal atau kapasitas, atau dengan kata
lain tanda sebagai suatu pegangan seseorang akibat keterkaitan dengan tanggapan
atau kapasitasnya.
Fungsi esensial
sebuah tanda adalah menjadikan relasi yang tidak efesien menjadi efisien, baik
dalam komunikasi kita dengan orang lain maupun dalam pemikiran dan pemahaman
kita tentang dunia.
Peirce
mengatakan bahwa tanda-tanda berkaitan dengan objek-objek yang menyerupainya,
keberadaannya memiliki hubungan sebab-akibat dengan tanda-tanda atau karena
ikatan konvensional. Dari sinilah Peirce membedakan adanya tiga kategori
eksistensial, yaitu: ke-pertama-an (firstness), ke-dua-an (secondness),
dan ke-tiga-an (thirdness).
Telaahannya
tentang tanda, Peirce membedakannya sebagai berikut:
a. Tanda
dan ground (dasar, latar)-nya.
b. Tanda
dan denotatum-nya (dunia yang dibentuk dengan kata-kata).
c. Tanda
dan interpretant-nya (tanda yang berkembang dari tanda yang telah terlebih
dahulu ada dalam benak orang yang menginterpretasikannya.
d. Tanda
berfungsi dalam hubungannya dengan tanda yang lain.
2. Louis
Hjelmslev
Dia adalah
tokoh semiotik sekaligus linguistik. Dia lahir di Denmark pada tahun 1899 dan
meninggal pada tahun 1966. Hjelmslev berpendapat bahwa bahasa adalah suatu
lembaga supra-individu yang harus dipelajari dan dianalisis secara tersendiri,
bukannya diamati sebagai sarana atau alat pengetahuan, pikiran dan emosi, atau
sebagai cara untuk melakukan kontak dengan yang berada di luarnya. Bahasa
adalah suatu sistem penandaan dan proses realisasi (bagi Saussure, istilah yang
setara masing-masing adalah ‘langua’ dan ‘parole’).
Konteks yang
berhubungan dengan tanda lain ialah dengan adanya fungsi. Fungsi
didefinisikannya sebagai “ketergantungan yang memenuhi persyaratan untuk suatu
analisis”. Suatu fungsi tanda ada di antara terminal yang membentuk tanda (functive).
Bahasa dibagi menjadi
dua dataran yang berbeda, yaitu pada sistem (yang sesuai dengan struktur bahasa
yang mendasar dan terus ada) dan pada proses (yang disebut juga sebagai teks).
Sebuah tanda bukan merupakan entitas fisik atau nonfisik yang bisa diambil
begitu saja oleh para ahli bahasa dan semiotik.
Menurut
Hjelmslev bahasa harus dilihat sebagai yang memiliki hubungan mendasar dengan
makna dan atau pemikiran. Artinya, bahasa itu terkait dengan upaya pemaknaan
suatu faktor yang ada dalam semua bahasa, yaitu massa pikiran yang tak
terbentuk yang berada di luar bahasa. Upaya pemaknaan adalah faktor paling
problematis dalam teori Hjelmslev ini.
Kandungan dan
ungkapan merupakan dua functive tak terpisah pada fungsi tanda. Ungkapan
bisa muncul dalam berbagai cara: melalui wicara, tulisan, isyarat (bahasa
isyarat).
Hjelmselv
mengadakn pengembangan terhadap fungsi tanda agar terhindar dari pembagian
artifisial dalam linguistik antara fonetik, morfologi, sintaksis, leksikografi,
dan semantik. Untuk menunjukkan inovasi, ia menggunakan istilah “glosematika”
(dari bahsa Yunani glossa, yang berarti bahasa).
Glosematika
bisa disebut sebagai sebuah aljabar bahasa yang bekerja dengan berbagai entitas
tanpa nama atau ilmu yang objeknya adalah aljabar bahasa yang imanen. Dalam
telaah Semiotika, Hejlmslev mempunyai teori yag bernama denotasi dan konotasi.
Denotasi adalah suatu wilayah ungkapan yang merujuk pada isi. Sedangkan
konotasi, secara formal terkait dengan fakata bahwa ungkapan dan kandungan
secara bersama-sama menjadi ungkapan lain yang mengacu kepada isi yang lain.
3. Roland
Barthes
Dia adalah
seorang ahki semiotika yang lahir di Cherbourg pada tahun 1915 dan meninggal
pada tahun 1980. Pada awal pemikirannya, ia melihat kehidupan sosial dan
kultural dalam kerangka penandaan, bukan dalam kerangka sifat-sifat objek yang
tidak bersifat esensial. Menurutnya, semiotika juga mempelajari bagaimana tanda
melakukan penandaan-dalam naskah sastra konvensibrial dan dokumen-dokumen
hukum, atau dalam iklan dan prilaku ragawi.
Sebagai seorang
ahli semiotika, ia baru merumuskan teori tentang mitos yang mendasari
tulisannya dalam Mythologies. Mitos adalah sebuah pesan-bukan konsep,
gagasan, atau objek. Mitos didefinisikan dengan “bagaimana caranya mengutarakan
pesan, ia adalah hasil dari wicara (parole), nukan bahasa (langua). Sebenarnya
mitos bukanlah kebohongan atau pengakuan; ia adalah pembelokn.
Secara teknis,
Barthes menyebutkan bahwa mitos merupakan urutan kedua dari sistem semiologis
dimana tanda-tanda dalam urutan pertama pada sistem itu (yaitu kombinasi
anatara petanda dan penanda) menjadi penanda dalam sistem kedua..
Menurut
Barthes, seluruh tanda dalam sistem denotatif berfungsi sebagai penanda pada
sistem konotatif atau sistem mitos. Maka, seorang analisis di bidang tanda berkewajiban
untuk menunjukkan fungsi denotasi dan konotasi yang membentuk tanda-tanda yang
dipahami banyak orang.
Dalam hal
busana, Barthes menjelaskan bahwa sebenarnya bahasa mode hanya bisa menjadi
jelas jika hubungan antar penanda ikut dipikirkan, bukan hanya hubungan
sembarang antara penanda dan yang ditandakan. Tanda busana bukan merupakan
gabungan sederhana dari penanda dan yang ditandakan, karena busana itu selalu
dikonotasikan dan tidak pernah didenotsikan. Tanda busana adalh tulisan tentang
busana itu sendiri yang menurut Barthes bersifat tautologis karena busana hanya
merupakan bahan pakaian yang fashionable.
Lima kode yang
ditttinjau Barthes adalah: Kode hermeneutik (pemaparan suatu teka-teki), kode
semik (makna konotatif), kode simbolik, kode proarietik (logika tindakan), dan
kode gnomic atau kode kultural yang membangkitkan suatu badan pengetahuan
tertentu.
Perjalanan teoritis
Bathes berakhir pada teori teks atau analisis tekstual. Dslsm analisis tekstual
atas narasi, menurut Barthes, membaca itu bukan untuk mencari melainkan untuk
menunda makna, bukan untuk mencari struktur melainkan melakukan strukturasi,
bukan untuk mengonsumsi melainkan untuk memproduksi teks.
Dalam telaahnya
terhadap produk teks sastra, Barthes melihat tanggung jawab seorang kritikus
sastra. Dia semakin tergila-gila pada tanda, yang kemudian olehnya diberi
istilah Semiotropi (semiotika negativa). Dengan ini ia menunjukkan bahwa
semiotika bukan semat-mata ilmu tentang tanda, melainkan lebih dari itu, yaitu
cinta akan tanda. Semiotropi merupakan jalan tengah dari dua ekstrem, yaitu:
semio-fisis (menjalankan semiotika sebagai alat untuk menghancurkan tanda itu
sendiri). Jadi, semiotrapi adalah sebuah nama yang diberikan untuk semiotika
sebagaimana yang dipraktikkan oleh orang-orang yang tidak kuatir dikungkung
oleh tanda atau tidak kuatir akan kehilangan tanda.
4. Umberto
Eco
Dia lahir di
Piedmont, Italia pada tahun 1932 dan dia menjadi terkenal di seluruh dunia
berkat dua novelnya, The Name of the Rose dan Foucault’s Pendulum. Di
dalam bukunya A Theory of Semiotics, Umberto Eco mengatakan, “Semiotika
berkaiatan dengan segala hal yang dapat dimaknai sebagai suatu tanda-tanda.
Sebuah tanda adalah segala sesuatu yang dapat dilekati (dimaknai) sebagai
pengganti yang signifikan untuk sesuatu yang lainnya.
Meskipun secara
eksplisit A Theory of Semiotics berkaitan erat dengan teori kebangkitan kode
dan tanda, tetapi titik tolak yang mendasarinya adalah pengertian Peirce
tentang “semiosis yang tak terbatas”. Bagi Eco hal ini terkait erat dengan
standar kedudukan pembaca.
Berkaitan
dengan “semiosis tak terbatas”, dalam hal kode, secara umum Eco membagi kode
dalam dua jenis, yaitu:
a. Jenis
kode Morse (bisa berbentuk tunggal), dimana suatu kode tertentu (garis dan
titik) sesuai dengan sekumpulan tanda, yaitu huruf-huruf abjad. Kode jenis ini
dimana satu usur daoat diterjemahkan ke sistem lainnya, sudaha barang tentu
memiliki penerapan yang sangat luas.
b. Jenis
kode Konteks, artinya kode itu memiliki konteks, yaitu kode yang berada dalam
kehidupan sosial dan kultural. Maksudnya satuan-satuan kultural adalah tanda
bahwa kehidupan sosial telah memberi kita buku-buku imaji, tanggapan yang
sesuai untuk menafsirkan pertanyaan yang mendua, kata-kata untuk menafsirkan
definisi dan demikian pula sebaliknya.
Selain teori tentang kode, Eco juga mempunyai teori tentang
pembentukan tanda (teori produksi tanda). Dalam pembahasannya tentang teori
ini, Eco menitikberatkan perhatiannya pada ketegangan antara unsur-unsur yang
dapat dicocokkan atau diramalkan oleh kode dan yang tidak bisa dicocokkan
dengan mudah. Singkatnya, unsur-unsur pokok pembentuk tanda (tipologi model
produksi tanda) menurut Eco adalah:
a. Kerja
fisik: upaya yang dilakukan untuk membentuk tanda.
b. Pengenalan:
objek atau peristiwa dilihat sebagai suatu ungkapan kandungan tanda, seperti
tanda gejala, atau bukti.
c. Peanampilan:
suatu objek atau tindakan menjadi contoh jenis objek atau tindakan.
d. Replika:
kecenderungan ke arah ratio difficilis secara prinsip, tetapi mengambil
bentuk-bentuk kodifikasi melalui penggayaan. Contoh: emblim, notasi musik, dan
tanda matematika.
e. Penemuan:
kasus yang paling jelas dari ratio difficilis. Sebagai sesuatu yang
tidak terlihat oleh kode; menjadi landasan suatu kontinuum materi baru.
Membedakan antara signifikasi dan
komunikasi, yang pada dasarnya semiotika signifikasi memerlukan bantuan teori
kode, sedangkan semiotika komunikasi memerlukan bantuan teori produksi tanda.
Perbedaan teori kode dan teori produksi tanda tidaklah sejalan dengan teori langue
dan parole; competence dan performance atau sintaksis (semantik)
dan pragmatik, sebagaimana yang dikemukakan Saussure.
Eco berusaha mengatasi perbedaan
tersebut dengan menyusun teori kode secara garis besar dengan tetap
memperhitungkan kaidah-kaidah kompetensi wacana, formasi teks, kepastian
konteks, dan situasi. Sistem signifikasi itu dimanfaatkan secara fisik untuk
mengungkapkan maksud-maksud tertentu. Jadi, untuk membedakan antara keduanya
harus melihat adanya perbedaan antara kaidah dan proses, atau perbedaan antara
potensi dan tindakan (menurut Aristoteles).
Ketika Peirce berpendapat bahwa tanda
adalah segala sesuatu yang ada pada seseorang untuk menyatakan sesuatu yang
lain dalam beberapa hal atau kapasitasnya, sebagaimana tanda dapat berarti
sesuatu bagi seseorang jika hubungan yang berarti ini diperantarai oleh
interpretant, maka Eco sepakat dengan Peirce dalam mengartikan interpretant
sebagai suatu peristiwa psikologis dalam pemikiran interpreter.
Tentang “bacaan” dan “interpretasi”, Eco
menjelaskan bahwa setiap karya sastra bisa dikatakan membentuk model pembaca
yang sesuai dengan berbagai kemungkinan nyata yang bisa dibenarkan oleh naskah.
Eco sering mengutip satiu baris dari Finnegans Wake yang mengatakan bahwa
“pembaca ideal menderita isomnia ideal”. Artinya, pembaca ideal itu tidak lain
adalah seorang pembaca sempurna yang memiliki berbagai bacaan yang bisa
diterima dalam kaitannya dengan struktur naskah itu sendiri. Sumbanagn Eco yang
terbesar dalam teori Semiotika adalah usahanya untuk menunjukkan bahwa bahasa itu
mirip dengan ensiklopedia, seperti yang ditemukan oleh para filsuf abad
kedelapan belas.
PSIKOANALISIS
Titik awal kemunculan teori
Psikoanalisis adalah usaha-usaha Freud dalam menganalisis dunia ketidaksadaran.
Psikoanalisis adalah sistem menyeluruh dalam psikologi yang dikembangkan oleh
Freud untuk menangani orang-orang yang mengalami neurosis dan masalah mental
lainnya. Tugas psikoanalisis adalah untuk mengobati penyimpangan mental dan
syaraf, menjelaskan bagaimana kepribadian manusiaberkembang dan bekerja, dan
menyajikan teori mengenai cara individu dapat berfungsi di dalam hubungan
personal dan masyarakat. Hubungan antara Psikoanalisis dan sastra dapat dilihat
ketika Psikoanalisis menjelaskan tentang konsep sensor dan pekerjaan tak sadar
dalam mimpi, yang ternyata memberikan sumbangan besar dalam perkembangan
teori-teori sastra modern.
Sigmund Freud
Dia berasal
dari keluarga pedagang Yahudi yang lahir pada tahun 1856 di Freiburg, Moravia,
yang kemudian menjadi bagian dari kerajaan Austro-Hungaria. Freud meninggal
pada tanggal 23 September 1939, di London. Sepanjang hidupnya, Freud
menghabiskan waktunya untuk berpikir dan berkarya, sehingga menjadikannya
seorang yang terkenal. Di antara karya-karyanya Freud yang terkenal ialah The
Interpretation of Dreams (1900), The Psychopathology of Everyday Life (1901),
General Introductory Lectures on Psychoanalysis (1917), New
Introductory Lectures on Psychoanalysis (1933), dan An Outline of
Psychoanalysis (1940).
Freud adalah
seorang dari mereka yang tergolong struktural, yang telah mengubah teori
positivistiknya tentang kehidupan psikis setelah menemukan fakta-fakta tentang
psike itu sendiri, baik psike dengan melakukan analisis terhadap dirinya,
maupun psike pasien-pasiennya menjadi teori psikoanalisis. Di samping itu,
Freud melihat bahwa psikoanalisisnya yang berpusat pada tafsir mimpi dapat
disepadankan dengan karya sastra. Mimpi adalah merupakan peleburan beberapa
tokoh atau hal yang mempunyai sifat yang umum ke dalam suatu gambar, atau
bahkan bisa dikatakan mimpi adalah peleburan beberapa kata yang mengacu pada
realitas yang berbeda dalam suatu kata.
Seperti halnya
sastra, mimpi juga memiliki prosedur yang sama, yaitu dengan adanya pengalihan
yang dianalogikan dengan metonimi dan simbolisasi yang dianalogikan dengan
metafora. Akan tetapi, antara bahasa mimpi dan bahasa sastra tetap memiliki
perbedaan sensor, yaitu bahwa proses dalam mimpi merupakan mekanisme tak sadar,
sedangkan dalam sastra merupakan tindakan sadar.
Menurut Freud,
mimpi itu seperti tulisan, yaitu sistem tanda yang menunjukkan pada sesuatu
yang berbeda dengan tanda-tanda itu sendiri. Selain berkaitan dengan sastra,
mimpi juga dapat disepadankan dengan seni. Freud yakin bahwa semua seni dan
sastra itu merupakan hasil dari sublimasi terhadap dorongan libido.
Di dalam
interpretasinya terhadap karya sastra, Freud mencoba menguraikan masalah delir
dan gejala-gejalanya, evolusi delir, dan tahap menuju penyembuhan dari gejala
neurosis yang diderita sang tokoh. Delir adalah gangguan kejiwaan yang menyebabkan
penderitanya memberikan kepercayaan yang sama besar pada ciptaan imajinasi,
khayalan, maupun pada persepsi nyata, sehingga si penderita membiarkan
kelakuannya dibelikkan atau diarahkan oleh apa yang timbul dalam khayalannya.
Sejumlah alasan yang memperkuat
mimpi dijadikan pusat psikoanalisis Freud, yaitu:
a. Mimpi
terjadi di tengah tidur.
b. Hanya
dengan metode analisis mimpi dan asosiasi bebas, simbolisme yang terlibat di
dalam gejala neurotik itu benar-benar bisa dimengerti.
c. Berdasarkan
gagasannya tentang seksualitas masa kanak-kanak, Freud menekankan bahwa mimpi
seringkali menyangkut masalah-masalah seksual yang berasal dari masa
kanak-kanak.
d. Freud
memandang semua mimpi itu sebagai ekspresi dari pemenuhan harapan.
Dengan demikian, analisis terhadap
mimpi-mimpi bukanlah suatu metode yang terpisah dari metode asosiasi bebas,
yaitu suatu metode yang menuntut pasien mengatakan segala sesuatu yang muncul
dalam kesadarannya dengan tidak mempedulikan apakah pernytaan itu memalukan
atau tak pantas didengarkan. Ucapan-ucapan pasien yang serba tidak teratur,
bagi Freud adalah merupakan penyataan-pernyataan yang memiliki hubungan dinamik
dan penuh arti dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya.
Menurut Freud, mimpi-mimpi yang
dilaporkan pasien dan asosiasi-asosiasi bebas yang mengiringnya itu merupakan
sumber informasi yang kaya tentang dinamika kepribadian manusia. Dalam hal ini
Freud menyatakan bahwa mimpi itu mengungkapkan kegiatan dan isi paling primitif
dari jiwa manusia, sementara prosesnya yang menghasilkan mimpi disebutnya
sebagai proses primer, yaitu suatu usaha untuk menciptakan pemenuhan hasrat
atau menghilangkan tegangan dengan cara menciptakan suatu gambaran tentang
tujuan yang diinginkan.
Tentang tafsir mimpinya, Freud
menganggap mimpi itu selalu didorong oleh kebutuhan untuk memenuhi suatu
harapan. Di dalam bentuknya yang paling sederhana, sebuah mimpi secara langsung
mengekspresikan suatu harapan. Menurut Freud, masing-masing mimpi memiliki isi
manifes dan isi laten. Manifes adalah bagian dari suatu mimpi yang
secara sadar teringat, sdangkan laten adalah bagian dari suatu mimpi yang tidak
bisa diingat secara sadar sebelum dilakukan analisis.
Dalam bentuk yang telah terdistorsi, Freud menyebutkan
beberapa macam mekanisme yang memungkinkan pemenuhan harapan dalam mimpi itu
terekspresikan, yaitu:
a. Adanya
peralihan emosi yang terikat pada suatu ide ke ide yang lain (displacement).
b. Bersatunya
dua ide atau lebih di dalm mimpi atau ketika melucu (kondensasi).
c. Simbolisasi,
yaitu ide atau citra mimpi.
d. Proses
yang mencegah dilepaskannya ide-ide tak sadar (resistensi).
Metode penfsiran mimpi
a. Metode
simbolis: seperti mimpi Yusuf tentang tujuh sapi kurus yang memakan tujuh sapi
gemuk, yang ditafsirkan secara simbolis sebagai tujuh tahun paceklik setelah
tujuh tahun kemakmuran – tetapi metode ini cenderung tidak dapat digunakan
untuk menafsirkan mimpi yang sangat kacau dan tak bisa dimengerti.
b. Metode
sandi (decoding): menggunakan metode yang pas untuk menfsirkan arti
mimpi. Tetapi bagi Freud metode ini tidaklah ilmiah karena bisa saja kunci
aslinya salah.
Menurut Freud, konsep lain dalam mimpi adalah adanya
simbol-simbol. Untuk memahami simbol-simbol dibutuhkan kombinasi antara
pengeksplorasian asosiasi si pemimpi sendiri dengan menggunakan pengetahuan si
pemimpi sendiri dengan menggunakan pengetahuan si analis mengenai simbol-simbol
mimpi untuk mengisi kesenjangannya, karena sibol seringkali memiliki lebih dari
satu arti. Banyak sekali konsep yang ditawarkan Freud dalam psikoanalisinya,
seperti konsepnya tentang mengeksplorasi pikiran tak sadar, teori seksual dan
libido, mencari identitas dewasa (id, ego, super ego), psikologi kesalahan,
makna gejala, teori analitis, dan lain-lain.
Tokoh-tokoh Psikoanalisis Lainnya
1. Karen
Horney
Adalah seorang
psikolog terkenal dan salah satu pemikir tentang neurosis yang terbaik. Ia
lahir 16 September 1885 di Hamburg, Jerman dan wafat 4 Desember 1952.
Pendekatan
psikologi Horney adalah Freudian. Cara pandang terhadap masalah neurosis, ia
menekankan adanya hubungan yang jelas antara neurosis dan kehidupan sehari-hari
yang dijalani penderita neurosis. Horney berpendapat bahwa sebenarnya neurosis
adalah cara yang digunakan manusia untuk menjalani hubungan dengan manusia
lainnya. Akan tetapi, hanya ada sebagian orang yang mampu melakukannya dengan
baik. Orang yang mengidap neurosis justru cenderung membiarkan dirinya hidup
dalam dunianya sendiri. Horney setidaknya menemukan 10 bentuk kebutuhan
neurosis yang didasarkan pada kebutuhan primer manusia, yang mengalami
gangguan. Gangguan tersebut yaitu, pertama, dapat berupa kebutuhan yang
tidak realistis, tidak masuk akal, dan tidak pandang bulu. Kedua, kebutuhan
orang yang mengidap neurosis sangatlah kuat, sehingga apabila tidak terpenuhi
akan membuatnya merasa gelisah dan cemas.
2. Anna
Freud
Dia lahir 3
Desember 1895 di Wina dan wafat 9 Oktober 1982. Dia adalah seorang psikolog
dari aliran psikoanalisis, yang juga merupakan putri dari Sigmund Freud.
Bukunya yang mebuat ia terkenal yaitu yang berjudul “Ego dan Mekanisme
Pertahanan”.
Perbedaan
antara Anna dan pemikir psikoanalisis lainnya, seperti Jung dan Alder adalah
bahwa Anna lebih tertarik pada dinamika kejiwaan ketimbang struktur kejiwaan,
khususnya dinamika yang bertumpu pada ego. Ego adalah dasar dari segala
observasi seorang psikolog baginya.
3. Carl
Jung
Nama lengkapnya
adalah Carl Gustav Jung, lahir 26 Juli 1875 di Kesswil dan wafat 6 Juni 1961 di
Kusnacht. Ia adalah psikiater Swiss dan printis psikolog analitik.
Pendekatan Jung
terhadap psikologi yang unik dan berpengaruh luas ditekankan pada pemahaman
“psyche” melalui eksplorasi dua mimpi, seni, mitologi, agama, serta filsafat.
Bagi Jung, kepribadian merupakan kombinasi yang mencakup perasaan dan tingkah
laku, baik sadar maupun tidak sadar. Jung juga menekankan pentingnya keseimbangan
dan harmoni. Kebanyakan karyanya mengeksplorasi bidang lain: filsafat Timur vs
Barat, alkimia, astrologi, sosiologi, juga sastra dan seni.
4. Alfred
Adler
Dia seorang
berkebangsaan Yahudi, lahir pada 7 Februari 1870 di Rudolfsheim, Austria. Dia
meninggal pada 28 Mei 1937 di Aberdeen, Skotlandia. Ia adalah seorang psikolog
dan fisikawan yang mengembangkan teori psikologi individual. Adler menyatakan
ada satu daya motivasi yang mempengaruhi semua bentuk perilaku dan pengalaman
manusia. Daya motivasi tersebut disebut “dorongan ke arah kesempurnaan”.
Menurut Freud, segala sesuatu yang terjadi di masa lalu, seperti trauma masa
kecil, pasti menjadi penentu siapa orang itu di masa kini. Sebaliknya Adler
justru berpendapat bahwa “dorongan ke arah kesempurnaan” yang hendak seseorang
capai di masa depan, itulah yang memotivasi mausia di masa kini.
5. Erich
Fromm
Dia seorang
berkebangsaan Jerman, lahir 23 Maret 1900 di Frankfrut am Main dan wafat 18
Maret 1980, pada umur 79 tahun merupakan seorang psikologi, psikoanalisis, dan
filsuf. Erich Fromm pertama kali belajar pada tahun 1918 di Universitas
Frankfrut am Main untuk semester dua di yurisprudensi. Pada musim panas 1919,
ia belajar di Universitas Heidelberg pada fakultas sosiologi.
Teori Kesadaran
Kesdaran adalah kesadaran akan
perbuatan. Sadar artinya merasa, tahu atau ingat (kepada keadaan yang
sebenarnya), keadaan ingat akan dirinya, ingat kembali (dari pingsannya),
siuman, bangun (dari tidur). Kesadaran yang dimiliki oleh manusia merupakan
bentuk unik dimana ia dapat menempatkan diri manusia sesuai dengan yang
diyakininya. Refleksi merupakan bentuk dari pengungkapan kesadaran dimana ia
dapat memberikan atau bertahan dalam situasi dan kondisi tertentu dalam
lingkungan.
Kesadaran merupakan unsur dalam diri
manusia untuk memahami realitas dan bagaimana cara bertindak atau menyikapi
terhadap realitas. Kesadaran manusia bahwa ia akan mati mendahului orang-orang
yang disayanginya atau sebaliknya adalah kesadaran akan kesendirian,
keterpisahan, akan kelemahan dalam menghadapi kekuatan alam dan masyarakat.
Teori Cinta
Cinta adalah sebuah perasaan yang ingin
membagi bersama atau sebuah perasaan afeksi terhadap seseorang. Pendapat
lainnya, cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia
terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, memberikan
kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh dan mau melakukan
apapun yang diinginkan objek tersebut. Cinta adalah satu perkataan yang
mengandung makna perasaan yang rumit. Sifat cinta dalam pengertian abad ke-21
mungkin berbeda dengan abad-abad yang lalu.
Ungkapan cinta mungkin digunakan untuk
meluapkan perasaan seperti berikut:
a. Perasaan
terhadap keluarga.
b. Perasaan
terhadap teman-teman (philia).
c. Perasaan
yang romantis (asmara).
d. Perasaan
yang hanya merupakan kemauan, keinginan hawa nafsu (cinta eros).
e. Perasaan
sesama (kasih sayang/agape).
f.
Perasaan tentang atau
terhadap dirinya sendiri (narsisisme).
g. Perasaan
terhadap sebuah konsep tertentu.
h. Perasaan
terhadap negaranya (patriotisme).
i.
Perasaan terhadap
bangsa (nasionalisme)
Cinta Antar Pribadi
Cinta antar pribadi menunjuk kepada
cinta antar sesama manusia, yang bisa mencakup hubungan kekasih, hubungan
orangtua dengan anak, dan juga persahabatan yang sangat erat. Beberapa unsur
yang sering ada dalam cinta antar pribadi antara lain:
a. Afeksi:
menghargai orang lain.
b. Altruisme:
perhatian non-egois kepada orang lain, yang tentunya sangat jarang kita temui
sekarang ini.
c. Reciprocation:
cinta yang saling menguntungkan, bukan saling memanfaatkan.
d. Komitmen:
keinginan untuk mengabadikan cinta, tekad yang kuat dalam suatu hubungan.
e. Keintiman
emosional: berbagi emosi dan rasa.
f.
Kinship: ikatan
keluarga.
g. Passion:
hasrat dan atau nafsu seksual yang cenderung menggebu-gebu.
h. Physical
intimacy: berbagi kehidupan erat satu sama lain secara fisik, termasuk di dalamnya
hubungan seksual.
i.
Self-interest: cinta
yang mengharapkan imbalan pribadi, cenderung egois dan ada keinginan untuk
memanfaatkan pasangan.
j.
Service: keinginan
untuk membantu dan atau melayani.
k. Homoseks:
cinta dan atau hasrat seksual pada orang yang berjenis kelamin sama, khususnya
bagi pria. Bagi wanita biasa disebut Lesbian.